Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendorong masyarakat Indonesia untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi kecerdasan buatan (AI), melainkan harus mampu menjadi pemain dan penguasa.

Pernyataan itu disampaikan melalui akun Instagram miliknya pada Selasa (16/6/2026).

>>> Pemerintah Tetapkan Tanggal Merah Mei 2026, Ada Tiga Potensi Libur Panjang

"AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini.

Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekadar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut," ujar Gibran.

Gibran menilai pemanfaatan AI sebagai peluang besar bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan daya saing nasional di kancah internasional.

Ia menyebut banyak teknologi AI canggih yang kini bersifat open source, sehingga dapat diakses siapa saja.

"Ilmu gratis, kodenya terbuka, bisa diakses siapa saja. Ini kesempatan emas bagi talenta berbakat Indonesia," ungkapnya.

Para pelajar diajak memahami cara kerja AI untuk meningkatkan kemampuan belajar, mencari informasi, memahami bahasa asing, hingga menyederhanakan materi pelajaran.

>>> Promo Superindo 12 Mei 2026: Diskon Ikan Gurame hingga Deterjen

Namun, penerapan AI harus diiringi dengan kemampuan berpikir kritis agar teknologi tetap menjadi alat bantu yang memicu kreativitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir alami manusia.

"Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri," imbaunya.

Gibran juga menyoroti aspek etika, karena AI berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, plagiarisme, atau melanggar privasi.

"Teknologi tanpa etika itu berbahaya," tegasnya.

Integrasi antara penguasaan teknologi dan kepatuhan terhadap etika dinilai menjadi penentu bagi visi Indonesia Emas 2045.

>>> New York Knicks Juarai NBA 2026, Akhirnya Puasa Gelar 53 Tahun Berakhir

"Di tangan yang menguasai teknologi, Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar impian, tetapi sebuah kepastian," pungkas Gibran.