Pelaku kejahatan siber kini menggunakan platform video pendek seperti TikTok dan Instagram Reels untuk menyebarkan malware.

Peneliti dari ReversingLabs mengungkap taktik baru yang memanfaatkan konten video berkualitas tinggi untuk memancing korban.

>>> IHSG Melesat 4,12 Persen ke Level 6.254,96 pada Penutupan Perdagangan

Video-video tersebut menargetkan pengguna yang mencari aplikasi premium secara gratis.

Kontennya dibuat bergaya tutorial dengan janji akses gratis ke layanan seperti Spotify Premium, CapCut Pro, dan YouTube Premium.

Proses produksi konten dibuat meyakinkan dengan narasi profesional dan grafis rapi. Pelaku juga menggunakan nama akun yang menyerupai halaman teknologi resmi untuk mengelabui target.

Penonton diarahkan mengikuti instruksi langkah demi langkah, termasuk menyalin dan mengeksekusi perintah PowerShell. Tindakan ini memicu pengunduhan dan pengeksekusian skrip berbahaya secara otomatis.

Penyebaran Lewat Konten Gaya Influencer

Selain format tutorial formal, peneliti mendeteksi pendekatan lain yang menyerupai gaya santai influencer. Pelaku mengunggah video pendek dengan klaim sukses mendapatkan layanan premium tanpa bayar.

Konten tersebut dipadukan dengan musik tren untuk memancing interaksi.

>>> Timnas Spanyol Ditahan Imbang Tanjung Verde Tanpa Gol di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Setelah video mendapat banyak komentar, korban digiring ke pesan pribadi atau situs pihak ketiga yang menjadi sarana distribusi malware.

Situs eksternal itu juga digunakan untuk menjalankan survei palsu atau pengalihan ke halaman berbahaya.

Ancaman Pencurian Data Vidarstealer

ReversingLabs mengonfirmasi bahwa file berbahaya dalam kampanye ini mengandung Vidarstealer.

Malware pencuri data ini mampu menguras informasi sensitif seperti kata sandi browser, cookie login, kredensial akun, dan data dompet kripto.

Distribusi ini efektif karena memanfaatkan algoritma rekomendasi media sosial. Video yang memicu banyak interaksi akan terus didorong ke pengguna lain.

Beberapa video berbahaya bahkan sempat menembus ratusan ribu penayangan sebelum terdeteksi. Teknologi kecerdasan buatan (AI) turut mempercepat produksi konten palsu tersebut.

>>> Kisah Ali Al-Hamadi: Air Mata Pelarian Keluarga yang Menjelma Jersey Irak di Piala Dunia 2026

Pemanfaatan pengubah suara AI dan template otomatis memungkinkan pelaku memproduksi video dalam jumlah besar secara instan. Fenomena ini membuat media sosial berpotensi menjadi jalur penyebaran malware yang masif.