Melalui rekaman kamera tersembunyi, tim ahli mengalkulasi estimasi kerapatan populasi satwa ini mencapai 15 ekor per 100 kilometer persegi.

Data tersebut mengindikasikan bahwa jumlah mereka di alam liar tidak selangka yang dikhawatirkan sebelumnya.

Populasi spesies ini diperkirakan lebih tinggi daripada mamalia karnivora besar seperti jaguar. Namun, jumlah mereka terpantau masih berada di bawah populasi karnivora berukuran sedang seperti oselot.

"Penelitian ini adalah contoh luar biasa tentang bagaimana teknologi konservasi dan penginderaan jauh dapat memberi data substansial mengenai salah satu spesies paling tak dikenal di hutan hujan Amazon," kata Robert Wallace.

Robert Wallace selaku ilmuwan dari Wildlife Conservation Society sekaligus penulis utama studi menjelaskan bahwa satwa ini sangat aktif pada siang hari.

Aktivitas tertinggi mereka terekam mulai pukul 06.00 pagi hingga tengah hari.

Walaupun memiliki jari kaki berselaput, satwa unik ini bukan merupakan hewan air melainkan spesies spesifik hutan.

Mereka menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat untuk tinggal di area hutan lahan tinggi yang posisinya jauh dari aliran sungai.

Kecenderungan untuk menetap di habitat yang sangat lebat menjadi pemicu utama mengapa satwa ini sangat jarang berpapasan dengan manusia.

>>> PPIH Padang Imbau Jamaah Haji Disiplin Isolasi Mandiri 14 Hari

Karakteristik tersebut diperkuat oleh sifat mereka yang tertutup serta kepemilikan indera penciuman dan pendengaran yang sangat sensitif untuk menghindari kehadiran manusia.