Menteri Pemuda dan Olahraga sekaligus Ketua PSSI, Erick Thohir, menjelaskan kebijakan regulasi kuota pemain asing untuk kompetisi Liga Indonesia dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI pada Senin (15/6/2026).

Pertemuan tersebut digelar untuk membahas proses naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker demi memperkuat Timnas Indonesia, sekaligus merespons pertanyaan anggota dewan mengenai pembinaan pemain muda serta dampak kehadiran pemain asing.

>>> BSI Lunasi Sukuk Mudharabah Rp 220 Miliar Tepat Waktu

Perbedaan Regulasi Antar Kasta

PSSI menerapkan aturan berbeda untuk kasta kompetisi.

Di kasta Championship, pembatasan ketat diberlakukan dengan kewajiban memainkan talenta lokal, sementara Super League melonggarkan kuota asing agar klub Indonesia mampu bersaing di level Asia Tenggara dan Asia.

"Kompetisi memang cukup kompleks, tetapi alhamdulillah di Championship aturannya itu jelas, tiga pemain asing saja, dan pemain usia 21 tahun itu harus masih ada bermain 90 menit kalau tidak salah secara kumulatif, dan pelatihnya harus orang Indonesia," ujar Erick Thohir.

Mengenai perbedaan dengan kasta tertinggi, regulasi longgar sengaja diterapkan demi menjaga daya saing antarklub di kancah internasional agar posisi kompetisi domestik tidak kembali menurun.

"Tetapi di Super League memang kompleksitasnya karena aturan Asia Tenggara dan Asia tidak ada pembatasan pemain asing.

Sedangkan kalau kita tidak mengikuti, ya kompetisi kita terus merosot," ucap Erick Thohir.

Peningkatan performa kompetisi tersebut memicu target baru dari federasi untuk terus mendorong kualitas kasta tertinggi sepak bola Indonesia ke jajaran elit benua.

>>> PPIH Padang Imbau Jamaah Haji Disiplin Isolasi Mandiri 14 Hari

"Padahal Super League sekarang sudah naik dari peringkat 25 ke 16 besar Asia. Kita sudah menaikkan dan cita-citanya di Super League itu sepuluh besar," imbuh Erick Thohir.