Dengan menyesuaikan ketebalan lapisan aktif, para peneliti merancang dua jenis sel: yang pertama, buram, mencapai efisiensi antara 7% hingga 12% tergantung ketebalan; yang kedua, semi-transparan, memungkinkan 41% cahaya tampak masuk dan tetap mengonversi energi surya dengan efisiensi 7,6%.

Meskipun angka-angka ini masih lebih rendah dibandingkan panel fotovoltaik tradisional, kemungkinan penerapan teknologi ini jauh lebih besar.

Bayangkan kota-kota di mana bukan hanya atap, tetapi juga jendela dan fasad membantu memasok listrik ke jaringan.

Manfaat Lingkungan dan Industri

Metode yang dikembangkan tim NTU memiliki manfaat lingkungan dan industri yang signifikan.

Proses ini menghindari pelarut beracun yang biasanya diperlukan dalam pembuatan sel surya, lebih mudah diterapkan, dan akibatnya lebih murah.

Teknologi ini juga cocok untuk produksi skala besar yang ramah lingkungan. Terobosan ini dapat meletakkan dasar bagi generasi baru permukaan penghasil listrik.

Fasad bangunan, jendela kantor atau rumah, dan bahkan bodi mobil dapat mengintegrasikan sel-sel ini dengan mudah dan terjangkau tanpa perlu perubahan desain besar.

Masa Depan Energi Terbarukan di Kota

Di Inggris, peneliti dari universitas Warwick dan Birmingham juga menyoroti bahwa langkah-langkah antara dalam reaksi kimia dapat mengungkap material baru dengan sifat berguna untuk energi surya, baterai, atau katalisis.

Secara keseluruhan, sel surya perovskite ultra-tipis dan semi-transparan menjanjikan cara baru yang lebih terintegrasi untuk menghasilkan energi terbarukan di lingkungan perkotaan—tanpa perlu membangun ladang surya baru di pinggiran kota atau memadati setiap atap dengan panel fotovoltaik.

>>> Tujuh Finalis The Icon Indonesia Melaju Setelah Queen Tereliminasi

Bagi kota-kota yang ingin meningkatkan kredensial energi hijau mereka, masa depan mungkin tampak lebih cerah—dan jauh lebih ramping.