Media sosial memudahkan setiap orang untuk mengamati berbagai momentum kehidupan orang lain, mulai dari pencapaian karier hingga liburan ke destinasi impian.

Namun, tayangan yang tampak menyenangkan tersebut tidak selalu memberikan respons positif. Bagi beberapa individu, melihat kehidupan orang lain justru memicu rasa sedih dan ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi.

>>> Lia ITZY Bagikan Tips Pijat dan Latihan untuk Postur Tubuh Tegak

Fenomena ini tercermin dari pernyataan seorang lansia di kolom komentar Facebook yang mengulas tentang jebakan perbandingan, seperti dilansir dari Medcom.

"Membaca tentang liburan orang lain membuat saya sedih. Itu di luar anggaran saya, selamanya.

Dan postingan-postingan ini tidak pernah berhenti," tulisnya.

Pernyataan tersebut menandakan bahwa setiap unggahan di platform digital memicu pengaruh berbeda bagi tiap individu.

Dokumentasi liburan atau keberhasilan tertentu bisa menjadi kebanggaan bagi pemiliknya, tetapi berpotensi menjadi pengingat bagi orang lain mengenai target yang belum tercapai.

Oleh karena itu, publik perlu lebih bijak sebelum menyebarkan konten di jaringan digital. Tidak seluruh momentum personal harus diperlihatkan secara terbuka.

Menyebarkan cerita tersebut terbatas pada lingkaran keluarga atau kerabat dekat dinilai sudah memadai.

Situasi ini relevan dengan pernyataan Theodore Roosevelt yang mengibaratkan tindakan membandingkan diri sebagai pencuri kebahagiaan.

Kebiasaan tersebut perlahan mengikis rasa syukur dan melahirkan rasa tidak puas terhadap kehidupan yang sebenarnya sudah berjalan dengan baik.

Langkah Mengatasi Siklus Perbandingan

Langkah awal untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan mengidentifikasi faktor pemicu yang memunculkan perasaan negatif.

>>> Mengenal Empat Jenis Skin Booster dan Manfaatnya untuk Kesehatan Kulit

Platform digital menjadi salah satu media utama yang menjebak masyarakat dalam siklus perbandingan, meski pemicunya tidak selalu berasal dari ranah virtual.