Ekonom: Tren Penguatan IHSG Bergantung pada Imbal Hasil Obligasi Pemerintah
Kepala Riset dan Ekonom Utama PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tren penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG sangat bergantung pada perkembangan indikator makro yang menjadi perhatian investor, terutama pergerakan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah.
>>> Indomaret Gelar Promo Es Krim Super Hemat Hingga 29 April 2026
“Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun secara bertahap dari level puncaknya di atas 7,3 persen menuju kisaran yang lebih rendah, premi risiko Indonesia akan menurun,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
“Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham,” lanjut Rully.
Data yang dihimpun menunjukkan IHSG pada pembukaan perdagangan sepekan terakhir bergerak naik dari 5.344,69 pada 9 Juni, menjadi 5.744,06 pada 10 Juni, 5.899,27 pada 11 Juni, 5.960,27 pada 12 Juni, dan 6.118,73 pada 15 Juni.
Rully menambahkan, penguatan yang terjadi saat ini masih didominasi oleh faktor technical rebound, didukung kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta meredanya ketegangan geopolitik.
BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen per 9 Juni.
>>> Xiaomi Siapkan Redmi K90 Ultra dengan Snapdragon 8 Elite dan Baterai 8.500 mAh
Sementara itu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan damai dan akan menandatangani nota kesepahaman pada 19 Juni.
Hal tersebut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi pemerintah, sehingga fundamental ekonomi Indonesia membaik dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Meski demikian, Rully memperkirakan pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, arah kebijakan moneter, dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia menuturkan, meski tanda-tanda perbaikan mulai terlihat, investor masih menunggu konfirmasi lebih kuat bahwa penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah dapat berlanjut secara berkelanjutan.
>>> Masyarakat Bikin Tabir Surya Sendiri Berisiko Kena Kanker Kulit
“Arus modal asing masih cenderung selektif,” imbuh Rully.
Update Terbaru
Kemendikdasmen Rilis Jadwal TKA 2026 untuk SD dan SMP
Selasa / 16-06-2026, 20:25 WIB
Promo Superindo Pekan Ini: Minyak Goreng hingga Sabun Mandi Diskon Besar
Selasa / 16-06-2026, 20:25 WIB
Kiper Teluk Verde Vozinha Raup 6,4 Juta Pengikut Instagram dalam 90 Menit
Selasa / 16-06-2026, 20:25 WIB
Komdigi Pulihkan Jaringan Telekomunikasi di Palu Pascagempa M 6,7
Selasa / 16-06-2026, 20:25 WIB
7 Tantangan Menemukan Huruf Tersembunyi untuk Uji Kejelian Mata
Selasa / 16-06-2026, 20:24 WIB
TVRI Siarkan Langsung Laga Piala Dunia 2026 Malam Ini, 16 Juni
Selasa / 16-06-2026, 20:24 WIB
Keraton Solo Hanya Kirab Tiga Kebo Bule Malam 1 Suro
Selasa / 16-06-2026, 20:24 WIB
Golkar: Harga Minyak Turun Momentum Pemerintah Perbaiki Fiskal
Selasa / 16-06-2026, 20:24 WIB
Gempa Magnitudo 6,7 Rusak Fasilitas Publik di Sigi dan Palu
Selasa / 16-06-2026, 20:20 WIB
Xiaomi Resmi Luncurkan POCO C81 Pro di Indonesia, Baterai 6.000 mAh
Selasa / 16-06-2026, 20:20 WIB
Soundcore Liberty 5 Pro Max Resmi di Indonesia, TWS Premium dengan Layar AMOLED
Selasa / 16-06-2026, 20:20 WIB
Pemerintah Tanggung Subsidi BBM Pertalite Rp8.000 Per Liter
Selasa / 16-06-2026, 20:20 WIB
DPR Setujui Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker untuk Timnas Indonesia
Selasa / 16-06-2026, 20:19 WIB
Omoway Catat Omo X Smart Long Range Jadi Varian Paling Laris
Selasa / 16-06-2026, 20:19 WIB






