Banyak resep tabir surya buatan sendiri beredar di internet, namun hanya sedikit yang benar-benar mampu melindungi kulit dari bahaya matahari.

Perlindungan yang tidak optimal berisiko memicu kanker kulit akibat paparan sinar ultraviolet. Sekitar satu dari lima warga Amerika Serikat diperkirakan akan terkena kanker kulit sepanjang hidup mereka.

>>> Aplikasi Game Casual MaGer Bagikan Saldo E-Money Gratis Hari Ini Tanpa Deposit

Tabir surya menjadi alat utama untuk mencegah efek merusak dari paparan matahari berlebihan. Membuat tabir surya sendiri sering menarik karena alasan biaya, kenyamanan, atau keamanan.

Namun, proses pembuatan formula yang efektif secara mandiri sangat sulit untuk mencapai standar otoritas kesehatan.

Tingkat SPF dan Bahan Aktif

Tingkat SPF (sun protection factor) adalah estimasi numerik seberapa baik produk melindungi kulit dari sinar ultraviolet B.

American Academy of Dermatology merekomendasikan produk dengan SPF 30 atau lebih tinggi.

Produk spektrum luas melindungi kulit dari sinar UVB dan UVA.

Sinar UVA dapat menembus jauh ke dalam lapisan kulit dan mempercepat kerutan, sementara UVB berkaitan erat dengan pemicu kanker kulit.

Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) mengatur produk ini sebagai obat bebas yang wajib dievaluasi efektivitas dan keamanannya.

Belakangan, beberapa bahan kimia seperti oksibenzon, retinil palmitat, dan paraben mulai dikhawatirkan konsumen.

Studi Akademi Sains Nasional tahun 2022 menunjukkan filter UV kimiawi dalam tabir surya tertentu dapat membahayakan kehidupan akuatik dan terumbu karang.

Produk mineral dinilai lebih aman bagi organisme bawah air.

Tabir surya alami umumnya memanfaatkan bahan aktif tumbuhan untuk melapisi kulit dan memantulkan sinar UV.

Bahan aktif tersebut biasanya berupa mineral seperti titanium dioksida atau seng oksida, bukan bahan kimia sintetis.