Pengoperasian AC atau alat dehumidifier dapat diterapkan demi mengontrol kelembapan tersebut. Tingkat kelembapan ideal untuk area dalam ruangan disarankan berada pada kisaran 40% hingga 60%.

>>> Psikolog Ungkap 5 Tanda Anak Berpotensi Sukses Saat Dewasa

Kedua, kurangnya perawatan sistem HVAC. Sistem HVAC yang prima sejatinya dapat diandalkan untuk menyaring partikel kecil di udara.

Namun, saluran udara yang mengalami kebocoran atau kondisi filter kotor justru akan mengedarkan kembali debu ke ruangan.

Langkah pemeriksaan berkala pada saluran udara sangat diperlukan untuk mencegah kerusakan. Penggantian filter udara juga wajib dijalankan secara rutin.

Ketiga, kekeliruan metode penggunaan vacuum cleaner. Alat penghisap debu memang membantu proses pembersihan, tetapi tidak semua perangkat memiliki kemampuan menyaring partikel halus.

Sebagian alat bahkan melepaskan kembali kotoran kecil ke udara saat dioperasikan.

Masyarakat disarankan memakai perangkat penahan debu basah atau menggunakan alat yang sudah dilengkapi teknologi filter HEPA. Langkah ini efektif mencegah kotoran beterbangan kembali.

Keempat, pengaruh kondisi lingkungan sekitar. Letak geografis hunian memegang peran besar terhadap volume kotoran yang menyusup ke ruangan.

Rumah yang berdekatan dengan area pabrik, zona industri, pertambangan, atau jalan raya memiliki risiko kontaminasi lebih tinggi.

Celah kecil pada jendela dan pintu tetap bisa menjadi jalur masuk partikel luar sekalipun dalam posisi tertutup.

>>> Momen Romantis di Jakim 2026: Pelari Pria Lamar Kekasih di Garis Finish

Penutupan celah tersebut serta pembersihan rutin pada karpet dan furnitur tekstil efektif menekan volume debu.