Bagi banyak anak muda, impian memiliki rumah kini terasa seperti perlombaan yang sulit dimenangkan. Harga properti terus merangkak naik, sementara kemampuan menabung sering tertinggal oleh kebutuhan hidup sehari-hari.

Skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) menjadi pilihan yang nyaris tak terelakkan.

>>> Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter, Ini Biaya Full Tank Xmax dan Forza

Namun, solusi itu juga menimbulkan kekhawatiran baru, mulai dari beban cicilan jangka panjang hingga ketidakpastian ekonomi yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Iqbal Afrian, anggota Generasi Z, masih menempatkan rumah sebagai tujuan masa depan. Namun, ia memilih membangun tabungan dan dana darurat terlebih dahulu daripada terburu-buru mengambil kredit.

"Sekarang masih fokus membangun tabungan dan dana darurat dulu. Kondisi ekonomi yang belum terlalu stabil bikin saya lebih hati-hati sebelum mengambil cicilan besar," ujar Iqbal.

Hal serupa dirasakan Annisa Nur Jannah.

Baginya, rumah sendiri masih menjadi tujuan yang ingin diwujudkan dalam beberapa tahun ke depan, sebagai simbol kestabilan hidup dan rasa aman jangka panjang.

"Saat ini saya memang sedang berusaha mencari rumah sambil menabung untuk mempersiapkan uang muka, sekitar 10% dari harga rumah yang saya incar," kata Annisa.

Menurut Annisa, KPR menjadi opsi paling realistis dengan penghasilan setara UMR Jakarta.

Namun, keputusan mengambil KPR tidak mudah karena ia masih mempertimbangkan ketidakpastian kondisi pekerjaan yang dapat memengaruhi kemampuan membayar cicilan.

Kekhawatiran tersebut menjelaskan mengapa banyak Gen Z belum menjadikan rumah sebagai prioritas utama.

>>> Rencana Bursa Mineral dan Komoditas Strategis untuk Perkuat Posisi Indonesia

Dengan penghasilan terbatas dan biaya hidup meningkat, sebagian besar anak muda masih fokus memenuhi kebutuhan jangka pendek dan membangun kondisi keuangan yang lebih aman.