Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menilai keraguan Gen Z untuk membeli rumah adalah hal yang wajar.

Sebagai pembeli rumah pertama, mereka cenderung mengincar rumah berukuran lebih kecil dengan harga terjangkau.

Data Bank Indonesia (SHPR Triwulan I 2026) menunjukkan penjualan rumah tapak kecil turun 46 persen secara tahunan, sementara segmen rumah mewah masih mencatatkan kinerja positif.

"Minat Gen Z terhadap rumah sepertinya tetap ada, tetapi di tengah pola perilaku dan harga rumah yang terus meningkat, serapan rumah pada segmen Gen Z cukup challenging," kata Syarifah.

Menyesuaikan Karakter dan Aksesibilitas

Pengembang dituntut menyesuaikan produk hunian dengan karakter generasi muda, mulai dari desain, lingkungan, fasilitas, hingga skema pembiayaan yang sesuai kemampuan mereka.

Pendekatan pemasaran juga perlu mengikuti platform digital yang sehari-hari digunakan Gen Z. Hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik semakin diminati.

Data Knight Frank Indonesia menunjukkan bahwa pada 2025, apartemen di kawasan transit-oriented development (TOD) dipasarkan dengan harga sekitar 3–7 persen lebih tinggi dibandingkan apartemen biasa.

Akses transportasi kini menjadi faktor penting dalam memilih hunian, tidak hanya bagi Gen Z.

>>> PT Pelindo Pulihkan Transportasi Laut Bengkulu Menuju Pulau Enggano

Tingginya harga tanah di pusat kota mendorong konsumen mencari rumah di kawasan penyangga yang lebih terjangkau namun tetap memiliki konektivitas baik.