Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen Usai AS-Iran Teken MoU
Iran menetapkan premi US$ 7,15 per barel di atas rata-rata Oman/Dubai untuk pengiriman Juli, jauh lebih rendah dibanding premi US$ 13 per barel pada bulan sebelumnya.
Lembaga keuangan Citi turut merevisi turun proyeksi harga rata-rata Brent pada paruh kedua 2026.
Bank tersebut memperkirakan Brent berada di kisaran US$ 75 per barel pada kuartal III dan US$ 70 per barel pada kuartal IV, seiring harapan normalisasi perdagangan melalui Selat Hormuz.
>>> Baznas Tetapkan Zakat Fitrah Ramadan 2026 Rp 50.000 per Jiwa
Tantangan Rantai Pasok dan Isu Geopolitik
Meski demikian, pelaku pasar menilai pemulihan pasokan tidak akan terjadi secara instan.
Selama lebih dari tiga bulan konflik berlangsung, jutaan barel minyak dan gas dunia tidak dapat mengalir ke pasar akibat penutupan Selat Hormuz.
Kepala Riset Sparta Commodities, Neil Crosby, mengatakan proses pemulihan rantai pasok dan aktivitas pengiriman di kawasan Teluk akan menjadi tantangan tersendiri.
Menurutnya, sebagian perusahaan pelayaran kemungkinan masih menunggu kepastian keamanan dan perlindungan asuransi sebelum kembali beroperasi penuh.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan lebih dari 14 juta barel per hari produksi minyak global sempat terhenti selama konflik, setara sekitar 14 persen dari total permintaan dunia.
Kalangan industri memperingatkan bahwa pemulihan produksi dan kapasitas pengolahan ke tingkat sebelum perang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga bertahun-tahun.
Di sisi lain, sejumlah faktor masih berpotensi menopang harga minyak dalam jangka panjang.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai rendahnya persediaan minyak global, lambatnya proses pemulihan produksi, serta kebutuhan pengisian kembali cadangan strategis dapat membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak di negara-negara ekonomi utama dunia mendekati level terendah sejak 2003.
Sementara Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS turun menjadi 340,3 juta barel, level terendah sejak 1983.
Meski pasar menyambut optimistis prospek perdamaian, sejumlah isu geopolitik masih membayangi. Israel menegaskan akan tetap mempertahankan kehadiran militernya di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza.
Sementara itu, pembahasan mengenai program nuklir Iran masih akan menjadi agenda utama dalam perundingan lanjutan.
Namun untuk saat ini, fokus pasar tertuju pada kemungkinan kembalinya pasokan minyak Timur Tengah ke pasar global.
>>> Cape Verde Tahan Imbang Spanyol Tanpa Gol di Piala Dunia 2026
Hal ini langsung memicu aksi jual besar-besaran dan menyeret harga minyak ke level terendah sejak awal Maret.
Update Terbaru
PLN UID Sulselrabar Catat 369 Pelanggan Baru Agrikultur pada Mei 2026
Selasa / 16-06-2026, 17:28 WIB
Audi A6 Allroad Terbaru Hadir dengan Fender Lebar ala RS6
Selasa / 16-06-2026, 17:20 WIB
Bulog Lhokseumawe Siapkan Pasokan Pangan untuk Koperasi Desa Merah Putih
Selasa / 16-06-2026, 17:20 WIB
Jamaah Haji Aceh Wafat Bertambah Jadi 10 Orang, Satu Meninggal di Madinah
Selasa / 16-06-2026, 17:20 WIB
China Desak Myanmar Ambil Langkah Pembangunan yang Didukung Rakyat
Selasa / 16-06-2026, 17:16 WIB
Galaxy Z Fold 8 Dipastikan Gunakan Chip Snapdragon
Selasa / 16-06-2026, 17:12 WIB
Samsung Galaxy S26+ vs Galaxy S26: Perbedaan Utama yang Perlu Diketahui
Selasa / 16-06-2026, 17:04 WIB
1.920 Pelajar Aceh Ikut Pawai Tahun Baru Islam 1448 Hijriah
Selasa / 16-06-2026, 17:00 WIB
Harga Bensin dan Solar di Selandia Baru Turun pada Mei
Selasa / 16-06-2026, 17:00 WIB
Berapa Kekayaan Rakin Khan? Sosok yang Dikabarkan Dekat dengan Fuji Jadi Sorotan
Selasa / 16-06-2026, 16:58 WIB
Diduga 5,7 Juta Data Nasabah Bank Jatim Bocor, Bank Belum Beri Penjelasan Resmi
Selasa / 16-06-2026, 16:55 WIB
Yamaha Gelar Popup Event Kolaborasi dengan Anime Botan Kamiina di Shibuya
Selasa / 16-06-2026, 16:53 WIB
Bupati Sigi: Sejumlah Ruas Jalan Tertimbun Longsor Akibat Gempa
Selasa / 16-06-2026, 16:52 WIB
TNBTS Amankan 13 Pendaki Ilegal Gunung Semeru
Selasa / 16-06-2026, 16:52 WIB






