Akuisisi yang rampung pada 2025 itu menghadirkan aset kilang berkapasitas 237 ribu barel per hari dan fasilitas cracker etilena berkapasitas 1,1 juta ton per tahun.

Kehadiran Aster secara signifikan mengubah struktur pendapatan perusahaan. Segmen energi kini menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 55 persen terhadap pendapatan kuartal I/2026.

Menurut Nizam, strategi diversifikasi tersebut menjadi langkah yang tepat di tengah tekanan berkepanjangan industri petrokimia global akibat kelebihan kapasitas produksi di China.

>>> Gong Yoo dan Song Hye Kyo Bintangi Drakor Tantara di Netflix

TPIA tidak lagi sepenuhnya bergantung pada siklus margin petrokimia yang sedang tertekan.

Kinerja keuangan perseroan pun mulai mencerminkan hasil dari transformasi tersebut.

Pada kuartal pertama 2026, TPIA membukukan laba operasional (EBIT) tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$468 juta dan laba bersih mencapai US$205 juta.

Segmen energi menjadi penyumbang terbesar dengan EBIT sebesar US$556 juta.

Capaian ini ditopang tingginya margin pengilangan di Singapura yang sempat mencapai sekitar US$30 per barel di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.

Nizam menilai investasi Aster berpotensi menghasilkan pengembalian yang lebih cepat dari perkiraan sekaligus memperbaiki struktur utang perusahaan.

Akuisisi ini juga memperkuat neraca keuangan melalui pencatatan keuntungan akuisisi sekitar US$1,7 miliar.

Strategi pertumbuhan TPIA terus berlanjut melalui pengembangan proyek Chlor-Alkali Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon senilai investasi sekitar US$800 juta.

Proyek ini digarap bersama Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas produksi 400 ribu ton soda kaustik padat dan 500 ribu ton EDC per tahun.

Produknya akan menyasar kebutuhan industri domestik dan pasar ekspor.

Di sisi lain, perusahaan juga memperkuat integrasi rantai bisnis melalui akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso di Singapura.

Langkah ini memungkinkan TPIA mengintegrasikan bisnis dari sektor pengilangan, petrokimia, hingga distribusi ritel.

Pilar ketiga dalam transformasi perusahaan adalah bisnis infrastruktur yang dijalankan melalui PT Chandra Daya Investasi (CDI).

>>> Mengenal Sejarah Hari Penegakan Kedaulatan Negara Setiap 1 Maret

Unit usaha ini mengembangkan layanan energi, kepelabuhanan, penyimpanan, logistik, dan air industri untuk mendukung operasional grup dan pihak ketiga.