"Nanti tunggu pembahasan anggaran dengan DPR, mungkin di bulan Agustus baru bisa keluar berapa jumlah unit," ujarnya.

Bahlil juga menepis kekhawatiran terkait potensi penolakan masyarakat seperti yang pernah terjadi pada program serupa beberapa tahun lalu.

Dia meyakini bahwa perkembangan teknologi saat ini telah menghadirkan model yang jauh lebih mumpuni.

"Ada model kompor listrik yang model baru.

Jadi memang semakin ke sini ada teknologi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi kompor listrik yang lama," katanya.

Kementerian ESDM saat ini tengah melakukan evaluasi mendalam terkait keunggulan teknologi terbaru tersebut.

Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur perbedaan positif secara mendetail dari model kompor listrik generasi sebelumnya.

"Kita juga sekarang sedang lagi melakukan penataan terhadap seberapa besar sih perbedaan positif dari kompor listrik lama dengan kompor listrik baru," ujar Bahlil.

Dana sebesar Rp815,59 miliar yang disiapkan untuk pengadaan ini berada di bawah naungan anggaran Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE).

Alokasi tersebut disusun berdasarkan Surat Bersama Pagu Indikatif (SBPI).

"Kompor listrik, ini karena kita mengurangi kebutuhan LPG, kita cari bauran energi lain.

>>> DJP Usulkan Pagu Indikatif 2027 Sebesar Rp5,4 Triliun, Fokus pada Pengawasan

Jadi energi lain kita bukan hanya LPG, ada kompor listrik, CNG, dan lain-lain itu Rp815,56 miliar," kata Bahlil.