Secara lebih mendetail, produksi siap jual atau lifting minyak bumi direncanakan berada pada angka 602 ribu sampai 615 ribu barel per hari (BOPD).

>>> Kementerian Investasi Targetkan Realisasi Rp13.032,8 Triliun hingga 2029

Target bergeser dari acuan tahun lalu sebesar 610 ribu BOPD.

Sementara itu, target lifting gas bumi dipatok pada level 934 ribu hingga 977 ribu BOEPD, turun dari target 2026 sebesar 984 ribu BOEPD.

Anggaran Subsidi Energi dan Listrik Meningkat

Pergeseran asumsi makro ini berdampak langsung pada pos pembiayaan subsidi. Pemerintah mengusulkan peningkatan kuota volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk periode 2027.

Total alokasi volume BBM subsidi yang disodorkan berada di kisaran 19,343 juta hingga 19,561 juta kiloliter.

Angka ini naik dibanding alokasi 2026 yang sebesar 19,17 juta kiloliter.

Rincian pasokan tersebut menargetkan penyaluran minyak solar bersubsidi sebesar 18,80 juta sampai 19 juta kiloliter.

Sedangkan alokasi untuk minyak tanah dipatok 0,543 juta hingga 0,561 juta kiloliter.

Di sisi lain, kebijakan berbeda diterapkan untuk elpiji tabung melon. Pemerintah mempertahankan pasokan LPG 3 kilogram di angka sekitar 8 juta ton.

Keputusan mempertahankan nilai juga berlaku untuk sektor transportasi. Subsidi tetap untuk produk solar CN48 diusulkan tidak berubah, yaitu tetap Rp1.000 per liter.

Namun, tekanan besar diperkirakan terjadi pada sektor kelistrikan akibat beban subsidi yang diproyeksikan terus membengkak.

Pemerintah menyodorkan pagu anggaran subsidi listrik sebesar Rp113,45 triliun hingga Rp122,83 triliun dalam RAPBN 2027.

>>> Dokter Boyke Ungkap Cara Hadapi Menopause dan Andropause

Angka ini melonjak signifikan dibanding alokasi APBN 2026 senilai Rp100,83 triliun.