Strategis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, melihat ketidakpastian tersebut masih menyimpan potensi pergerakan harga hingga akhir tahun.

"Meskipun ketidakpastian ini menunjukkan adanya risiko kenaikan terhadap proyeksi kami bahwa harga minyak Brent dapat mencapai US$ 80 per barel pada akhir tahun, perlu dicatat bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu kembali ke sekitar 60% hingga 70% dari tingkat sebelum perang untuk mengembalikan pasar minyak ke kondisi kelebihan pasokan seperti sebelum konflik," kata Vivek Dhar.

Sebagai langkah lanjutan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan negosiasi yang lebih luas akan berjalan selama masa gencatan senjata 60 hari.

Kelompok negara E4 yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia juga bersiap mencabut sanksi nuklir Teheran.

Analis Pasar Senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyatakan bahwa perhatian pasar kini bergeser pada implementasi nyata kesepakatan tersebut di lapangan.

"Di luar reaksi harga dalam jangka pendek, perhatian kini akan beralih pada seberapa cepat normalisasi pasokan benar-benar terjadi serta kepatuhan terhadap isi kesepakatan," terang Priyanka Sachdeva.

Sachdeva menambahkan bahwa dampak ekonomi yang dirasakan negara importir akibat tingginya biaya energi selama konflik membutuhkan waktu untuk pulih.

"Walaupun konflik mungkin telah berakhir dan arus minyak melalui Selat Hormuz secara bertahap kembali normal, kerusakan yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki dalam semalam.

>>> Cara Mudah Mendeteksi Alat Pelacak Liar di Android dan iPhone

Hal ini mencakup tidak hanya kerusakan fisik pada infrastruktur minyak, tetapi juga tekanan ekonomi yang dialami negara-negara pengimpor minyak akibat tingginya biaya energi selama berbulan-bulan," ungkap Priyanka Sachdeva.