Pemerintah Lanjutkan Kontrak Impor Minyak Mentah Jangka Panjang
Pemerintah Indonesia menegaskan akan tetap menjalankan kontrak jangka panjang impor minyak mentah dari sejumlah negara mitra. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa jaminan pasokan yang telah diamankan lewat perjanjian kerja sama tidak akan diubah secara mendadak.
>>> 5 Rekomendasi Hotel Terbaik di Bandung untuk Staycation Keluarga Nyaman
Hal ini disampaikan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6).
"Kalau persilat impor crude (minyak mentah), sekalipun Selat Hormuz-nya sudah dibuka, tetap kita sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan negara-negara lain," tegas Bahlil.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya sempat melumpuhkan aktivitas maritim akibat penutupan Selat Hormuz.
Situasi ini memaksa Indonesia mengalihkan sumber pasokan minyak dari Timur Tengah ke negara alternatif.
Indonesia kemudian mengamankan rantai pasok baru dari Rusia, Angola, Amerika Serikat, hingga Australia.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk kembali mendatangkan minyak mentah dari Timur Tengah di masa mendatang.
Pengaktifan kembali jalur perdagangan tersebut sangat bergantung pada kalkulasi nilai keekonomian yang rasional. Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga pasar internasional.
>>> Jerman Hancurkan Curacao 7-1 di Laga Perdana Grup E Piala Dunia 2026
"Tapi kalau harganya lebih kompetitif, maka tidak menutup kemungkinan juga untuk kita mencoba untuk membuka akses pasar di Middle East (Timur Tengah)," ujar Bahlil.
Rencana Normalisasi Selat Hormuz
Sinyal berakhirnya ketegangan militer antara Washington dan Teheran muncul setelah pernyataan resmi dari Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran.
Kedua pihak mengonfirmasi tercapainya kesepakatan awal.
Perdana Menteri Pakistan yang bertindak sebagai mediator utama mengumumkan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian dijadwalkan di Swiss pada Jumat mendatang.
Proses ini dibarengi rencana normalisasi akses pelayaran di Selat Hormuz.
Presiden Trump memastikan Selat Hormuz dapat diakses kembali secara bebas tanpa biaya retribusi tambahan. Kebijakan ini berjalan bersamaan dengan instruksi penarikan blokade angkatan laut AS.
Kantor berita resmi Iran, Mehr, melansir bahwa draf kesepakatan bilateral mengamanatkan pemulihan operasional penuh di Selat Hormuz ditargetkan rampung dalam 30 hari ke depan.
>>> Marc Klok Dukung Timnas Belanda di Piala Dunia 2026, Siap Nonton Langsung
Kendali pengawasan navigasi tetap berada di bawah otoritas pemerintah Iran.
Update Terbaru
Ed Sheeran Isyaratkan Hiatus Usai Tur LOOP 2026
Senin / 15-06-2026, 22:01 WIB
Promo Tip Top 16-30 April 2026: Diskon Daging, Ayam, hingga Buah Segar
Senin / 15-06-2026, 22:01 WIB
Jasa Marga Group Buka Pendaftaran Mudik Gratis 25 Februari 2026
Senin / 15-06-2026, 22:01 WIB
Hansi Flick Akan Temui Empat Pemain Barcelona Bahas Masa Depan
Senin / 15-06-2026, 22:00 WIB
Kamari Wassink Beri Pesan Haru untuk Justin Hubner di Hari Pernikahan
Senin / 15-06-2026, 22:00 WIB
Catat Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional April 2026
Senin / 15-06-2026, 22:00 WIB
Porsi Saham Publik Chandra Asri Pacific Meningkat Jadi 25,7 Persen
Senin / 15-06-2026, 22:00 WIB
Hajime Moriyasu Gunakan Papan Tulis untuk Instruksi Pemain Jepang
Senin / 15-06-2026, 21:59 WIB
Dewan Penasihat MTI: Subsidi BBM Melenceng dari Keadilan Sosial
Senin / 15-06-2026, 21:59 WIB
Kinerja Unitlink Terpuruk, Pilihan Produk Perlu Disesuaikan Profil Risiko
Senin / 15-06-2026, 21:59 WIB
OPPO Find X10 Pro Bocor: Kamera 200MP Ganda dan Baterai 8.000 mAh
Senin / 15-06-2026, 21:57 WIB
Mobile Legends Season 41 Juni 2026: Jadwal Reset Rank dan Bocoran Hero Baru
Senin / 15-06-2026, 21:56 WIB
Games Terbaik Juni 2026 di Poki Games: Drive Mad dan Level Devil
Senin / 15-06-2026, 21:56 WIB
TVRI dan Dua Platform OTT Siarkan Live Streaming Piala Dunia 2026
Senin / 15-06-2026, 21:56 WIB






