Harga minyak dunia merosot ke level terendah sejak 10 Maret setelah Amerika Serikat dan Iran bersiap menandatangani nota kesepahaman di Swiss.

Langkah diplomatik ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global akibat penutupan jalur laut utama.

>>> Jerman Hajar Curacao 7-1 di Laga Perdana Grup E Piala Dunia 2026

Perdana Menteri Pakistan selaku mediator menyatakan penandatanganan kesepakatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Jumat pekan ini.

Rancangan kesepakatan yang dilaporkan kantor berita Mehr menyebutkan Selat Hormuz akan dibuka kembali dalam waktu 30 hari di bawah mekanisme Iran.

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa blokade di kawasan pelayaran strategis tersebut akan berakhir.

"Selat Hormuz akan terbuka tanpa dikenakan biaya, dan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran juga akan diakhiri," kata Donald Trump.

Penurunan ketegangan ini berdampak langsung pada premi risiko geopolitik yang sebelumnya melambung.

Pelaku pasar kini mulai mengantisipasi kembalinya aliran komoditas setelah lebih dari tiga bulan pasokan jutaan barel minyak dan gas menghilang dari pasar global.

Dampak pada Pasar Energi

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai situasi ini mengubah peta pergerakan harga komoditas energi di pasar internasional.

"Premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk pada harga minyak mentah kini mulai terurai dengan cukup agresif karena para pelaku pasar mulai memperhitungkan prospek pulihnya kembali arus pasokan minyak," ujar Tim Waterer.

Kendati konflik mereda, pelaku pasar masih memantau kecepatan pemulihan infrastruktur produksi di Timur Tengah.

>>> Kiaton Bagikan 25 Ucapan Minggu Palma Penuh Makna untuk Sambut Paskah

Pemulihan operasional dinilai krusial mengingat Selat Hormuz merupakan jalur transit untuk seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.