Bank of England (BoE) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen dalam pertemuan kebijakan moneter pada Kamis (18/6/2026).

Keputusan ini diambil untuk mencermati apakah lonjakan harga energi akibat perang Iran akan memicu tekanan inflasi yang bersifat permanen.

>>> AS dan Iran Sepakati Penghentian Operasi Militer, Selat Hormuz Dibuka Kembali

Gubernur Bank of England Andrew Bailey menilai bank sentral masih memiliki ruang untuk memantau situasi ekonomi terkini.

Berbeda dengan Bank Sentral Eropa (ECB) yang telah menaikkan suku bunga pekan lalu, BoE menganggap kebijakan moneternya sudah diperketat melalui penghentian rencana pemangkasan suku bunga tahun ini.

"Kami sudah memperketat kebijakan secara signifikan sebagai respons terhadap guncangan yang terjadi dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebelumnya.

Dan langkah tersebut sudah mulai memberikan dampak terhadap perekonomian," kata Andrew Bailey.

Data resmi menunjukkan ekonomi Inggris mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen pada April, setelah sempat tumbuh 0,3 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Confederation of British Industry (CBI) memperkirakan tingkat pengangguran negara tersebut akan menyentuh angka 5,5 persen, yang menjadi level tertinggi dalam 11 tahun terakhir.

Kondisi pasar tenaga kerja dan pelemahan ekonomi ini diperkirakan bakal membatasi dampak kenaikan ekspektasi inflasi terhadap pertumbuhan upah masyarakat.

Kepala Ekonom Inggris di Deloitte, Debapratim De, mengatakan bahwa situasi seperti ini membuat ekspektasi inflasi yang lebih tinggi akan lebih sulit diterjemahkan menjadi pertumbuhan upah yang lebih cepat.

Di sisi lain, pasar keuangan belum sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga BoE sebelum November setelah adanya pernyataan mengenai prospek perdamaian di Iran.

>>> Promo HokBen HUT Jepara 12 April 2026, Paket Makan Berdua Rp 61.300