Namun, survei triwulanan BoE menunjukkan ekspektasi inflasi jangka panjang justru meningkat menjadi 4,0 persen, yang merupakan level tertinggi sejak 2009.

Perbedaan pandangan terjadi di internal bank sentral, di mana beberapa pembuat kebijakan mendorong kenaikan suku bunga.

Kepala Ekonom BoE Huw Pill dan anggota Komite Kebijakan Moneter Megan Greene menilai tindakan tegas diperlukan untuk mengatasi ancaman inflasi.

"Dalam beberapa minggu ke depan, kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk meyakinkan pasar dan masyarakat bahwa bank sentral benar-benar menangani ancaman inflasi dengan serius," kata Megan Greene.

Greene juga menyoroti meluasnya kenaikan harga yang tercermin dalam survei Purchasing Managers' Index (PMI) di sektor jasa dan manufaktur.

Menurutnya, kegagalan dalam mengambil tindakan pengetatan kebijakan moneter memiliki risiko yang jauh lebih besar.

"Risiko mengambil tindakan, sekalipun inflasi ternyata tidak terlalu persisten, lebih kecil dibandingkan risiko jika gagal mengambil tindakan," ujar Greene.

Tantangan inflasi Inggris diperparah oleh gangguan rantai pasok pascapandemi COVID-19, invasi Rusia ke Ukraina, serta kenaikan tarif energi domestik.

Ekonom senior di bank Jepang MUFG, Henry Cook, menilai BoE tidak boleh mengulur waktu terlalu lama untuk menaikkan suku bunga.

>>> Ookla Rilis Daftar Negara Peserta Piala Dunia 2026 dengan Internet Tercepat

"Kami memang melihat adanya risiko bahwa mereka pada akhirnya terlalu banyak menunda. Bermain untuk mengulur waktu berpotensi bukan menjadi strategi terbaik dalam situasi seperti ini," kata Henry Cook.