Pasar modal Indonesia mengalami kelangkaan pencatatan saham perdana (IPO) dari sektor teknologi.

Setelah maraknya aksi korporasi raksasa seperti GOTO dan Bukalapak pada 2021-2022, pergerakan emiten teknologi berskala besar di bursa saham meredup.

in1

>>> James Gunn Puji Film The Furious yang Dibintangi Joe Taslim

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan situasi ini bukan akhir dari era IPO teknologi di tanah air.

Menurutnya, fenomena tersebut merupakan penundaan akibat masa konsolidasi setelah fase Tech Winter.

Secara keseluruhan, aktivitas pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot tajam. Dari 79 emiten pada 2023 menjadi hanya 26 emiten pada 2025.

"Hambatan utamanya ada dua: pasar publik enggan menerima perusahaan rugi dan valuasi pasar modal lebih rendah dari pendanaan privat," kata Harry, Senin (15/6/2026).

Minat investor global terhadap sektor teknologi sebenarnya masih tinggi.

Hal ini tercermin dari keberhasilan IPO SpaceX yang menghimpun dana publik hingga US$75 miliar, sekaligus menjadi penawaran saham terbesar sepanjang sejarah.

Harry menilai penanam modal global berani memberikan valuasi tinggi untuk perusahaan teknologi karena ditopang model bisnis revolusioner dan dominasi di pasar internasional.

Kondisi tersebut sulit terjadi di dalam negeri karena belum adanya emiten teknologi domestik yang dinilai cukup canggih.

Meski demikian, Samuel Sekuritas memproyeksikan beberapa perusahaan teknologi lokal memiliki peluang menjadi bintang baru di bursa dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

"Kredivo, dia pemimpin pasar pembiayaan digital berbasis kredit. Kemudian juga ada Akulaku, memiliki ekosistem fintech finansial dengan dukungan perbankan digital," ujarnya.

Selain kedua nama tersebut, Harry mengidentifikasi Traveloka sebagai platform perjalanan digital yang menunjukkan pemulihan kinerja paling agresif.