Harga minyak mentah acuan dunia, Brent, diproyeksikan berpeluang turun hingga ke level 70-an dolar AS per barel pada paruh kedua tahun 2026.

Penurunan ini dapat terjadi apabila pembukaan kembali Selat Hormuz berjalan tanpa hambatan pasca-tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

>>> Dolar AS Anjlok ke Terendah 10 Hari Usai Kesepakatan Damai AS-Iran

Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo, Wahyu Laksono, memaparkan bahwa keputusan Presiden AS Donald Trump untuk merampungkan kesepakatan dengan Iran menjadi faktor pendorong melemahnya harga minyak.

Bahkan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berpotensi merosot hingga menyentuh level 65 dolar AS per barel pada semester kedua tahun ini.

"Tren harga minyak WTI sudah anjlok hari ini dan berada di kisaran US$81/barel.

Untuk outlook semester II, harga minyak WTI bisa US$65—US$95 per barel dan untuk Brent US$70—US$100 per barel," kata Wahyu saat dihubungi, Senin (15/6/2026).

Menurut analisis Wahyu, penurunan tajam pada awal pekan ini menandakan bahwa pelaku pasar mulai mengantisipasi meredanya risiko di kawasan Timur Tengah.

Situasi tersebut secara langsung memangkas kekhawatiran global terhadap potensi macetnya pasokan energi.

"Harga minyak dunia kemungkinan besar tidak akan mencapai level ekstrem yang sempat ditakuti pasar, seperti US$200/barel.

Faktor utamanya adalah jalur logistik paling kritis di dunia, Selat Hormuz, tetap terbuka dan pasokan kembali stabil," kata Wahyu.

Kini, perhatian para analis pasar modal telah beralih dari ketegangan militer menuju faktor fundamental, terutama mengenai keseimbangan pasokan dan proyeksi permintaan riil di pasar global.

Kendati demikian, stabilitas penurunan harga komoditas ini diprediksi tetap memiliki batas karena akan tertahan oleh kebijakan pemangkasan atau pembatasan produksi dari kartel minyak dunia, OPEC+.