Penularan virus ini terjadi melalui droplet pernapasan, kontak fisik langsung, ataupun paparan benda yang tercemar kuman.

“Gejala HFMD biasanya diawali dengan demam, badan tidak nyaman, lemas, dan nyeri tenggorokan.

Setelah itu, anak dapat mengalami sariawan atau luka di rongga mulut sehingga sulit makan dan minum.

Beberapa hari kemudian, ruam atau bintik dapat muncul di telapak tangan, telapak kaki, sekitar mulut, bokong, atau bagian tubuh lain.

Pada sebagian besar anak, HFMD dapat membaik dengan perawatan suportif,” jelasnya.

Orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas medis jika muncul gejala bahaya.

Tanda darurat tersebut meliputi demam tinggi menetap, kejang fisik, anak tampak sangat lemas, hingga terjadinya penurunan kesadaran.

Perluasan Indikasi Vaksin EV71 untuk Balita

Sebagai langkah preventif konkret, vaksin EV71 HFMD kini sudah tersedia bagi anak-anak usia enam bulan hingga menjelang enam tahun.

Imunisasi ini diberikan dalam dua dosis terpisah dengan tenggang waktu satu bulan dari suntikan pertama.

Pemberian vaksin EV71 secara spesifik dirancang untuk menghalau infeksi dari Enterovirus 71 yang menjadi dalang utama komplikasi fatal HFMD.

Produk medis ini telah mengantongi izin edar resmi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pada tanggal 5 Februari 2026, BPOM resmi mengeluarkan izin perluasan indikasi pemakaian vaksin ini untuk rentang usia anak 6 bulan hingga 71 bulan.

Kebijakan ini memperluas cakupan perlindungan anak dari risiko penularan flu Singapura.

Vidi menegaskan bahwa penyediaan vaksin EV71 HFMD ini merupakan komitmen nyata dari Kalventis untuk menyukseskan program pengendalian penyakit menular di Indonesia.

>>> PHE Produksi Migas 1,032 Juta BOEPD Sepanjang 2025

“Ini bagian dari langkah kami dalam mendukung perlindungan yang optimal agar keluarga Indonesia dapat tumbuh lebih sehat dan kuat,” imbuhnya.