Boikot ChatGPT Meluas Lewat Gerakan QuitGPT
ChatGPT, chatbot populer milik OpenAI, menghadapi gelombang penolakan besar setelah hampir empat tahun beroperasi.
Jutaan orang dilaporkan mulai meninggalkan platform kecerdasan buatan tersebut melalui gerakan yang berpusat di situs QuitGPT.org.
>>> Jimmy Kimmel Sindir Trump dengan Kartu Ultah Tiruan Jeffrey Epstein
Gerakan ini secara aktif mengajak masyarakat global untuk berhenti total menggunakan ChatGPT.
Aksi boikot dipicu oleh kekhawatiran besar terkait masalah keamanan data dan arah kebijakan korporasi.
"Kami tengah mengorganisir warga Amerika dan orang-orang di seluruh dunia berhenti menggunakan ChatGPT," tulis QuitGPT.
Pihak QuitGPT menyoroti adanya kesepakatan strategis antara CEO OpenAI Sam Altman dengan pemerintah Amerika Serikat.
Kerja sama tersebut dinilai membahayakan privasi dan menempatkan pengguna dalam risiko eksploitasi teknologi demi keuntungan sepihak perusahaan.
Penolakan semakin menguat setelah munculnya laporan mengenai izin penggunaan teknologi OpenAI oleh militer Amerika Serikat.
"OpenAI setuju membiarkan Pentagon menggunakan teknologi untuk tujuan hukum apapun, termasuk robot pembunuh dan pengawasan massal," tulis gerakan itu.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan sikap kompetitor utama mereka, Anthropic.
Anthropic memilih untuk membatasi akses militer demi melindungi privasi warga sipil.
>>> Astronom Temukan Galaksi Kerdil Sextans Mulai Hancur Terbelah Dua
Perusahaan itu secara tegas melarang penggunaan teknologi kecerdasan buatan mereka untuk aktivitas pengawasan massal terhadap warga Amerika Serikat dan pengembangan senjata berbasis AI.
Kedekatan dengan Pemerintah dan Dampak Sosial
Gerakan QuitGPT juga mengkritik kedekatan para petinggi OpenAI dengan tokoh politik, termasuk donasi politik dalam jumlah besar.
CEO OpenAI Sam Altman dan Presiden OpenAI Greg Brockman bersama istrinya diketahui menyetor dana ke yayasan MAGA Inc untuk mendukung Donald Trump pada tahun 2025.
Update Terbaru
5 Mobil Listrik Bekas di Bawah Rp 150 Juta per Juni 2026
Senin / 15-06-2026, 13:13 WIB
13 Negara Peserta Piala Dunia 2026 Kecam Komentar Presiden UEFA
Senin / 15-06-2026, 13:13 WIB
Saham SSMS Tawarkan Dividen Rp 8.399 Per Lot, Yield 6,04%
Senin / 15-06-2026, 13:13 WIB
Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Ini Amalan Utama di Bulan Muharram
Senin / 15-06-2026, 13:12 WIB
Harga Emas Perhiasan Semar Nusantara dan Raja Emas 15 Juni 2026 Berubah
Senin / 15-06-2026, 13:12 WIB
Siri Masa Depan Bisa Jadi Agen AI yang Mengoperasikan Perangkat Apple
Senin / 15-06-2026, 13:08 WIB
BRI Luncurkan Tiga Reksadana Dolar AS Lewat BRImo
Senin / 15-06-2026, 13:05 WIB
Pengguna Internet Indonesia Capai 235,26 Juta Jiwa pada 2026
Senin / 15-06-2026, 13:05 WIB
Manu Kone Tunda Bahas Masa Depan di AS Roma Demi Piala Dunia 2026
Senin / 15-06-2026, 13:05 WIB
Niramas Utama Targetkan Dana IPO Rp392 Miliar untuk Ekspansi Inaco
Senin / 15-06-2026, 13:04 WIB
Ruben Onsu Sindir Giorgio Antonio soal Konten di Rumah Sarwendah
Senin / 15-06-2026, 13:04 WIB
Klasemen Grup B Piala Dunia 2026: Swiss Puncaki Lewat Fair Play
Senin / 15-06-2026, 13:04 WIB
Subsidi Pemerintah AS Jadi Penopang Awal Kesuksesan Tesla dan SpaceX
Senin / 15-06-2026, 13:04 WIB
Disdik Jateng Buka SPMB 2026 untuk SMA dan SMK Negeri, Ini Jadwalnya
Senin / 15-06-2026, 13:04 WIB






