Gaya hidup masyarakat perkotaan di China memicu pertumbuhan pesat industri hewan peliharaan.

Banyak pemilik anjing di wilayah urban bersedia mengeluarkan biaya hingga ribuan yuan setiap bulan demi menyekolahkan hewan peliharaan mereka.

>>> Film Agak Laen 2 Raih 9 Juta Penonton dalam 27 Hari

Salah satu fasilitas yang menawarkan layanan ini adalah Paw³, sebuah taman kanak-kanak untuk anjing di Shanghai.

Tempat penitipan ini beroperasi mulai pukul 09.00 pagi dengan jadwal aktivitas terstruktur.

Anjing-anjing yang datang mengikuti berbagai kegiatan interaktif hingga sore hari.

Program yang disiapkan meliputi permainan ketangkasan, lintasan rintangan, latihan fisik menggunakan treadmill khusus anjing, hingga waktu istirahat dengan musik klasik.

Pendiri Paw³, Jann Zhang, mengungkapkan bahwa ide mendirikan fasilitas ini berawal dari pengalaman pribadinya. Ia sempat kesulitan mencari solusi saat anjing peliharaannya mengalami kecemasan dan sulit bersosialisasi.

"Saya ingin memberikan ruang bagi anjing untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan anjing lain.

Dari situlah ide membuka taman kanak-kanak anjing ini muncul," ujar Zhang dilansir dari Reuters, Senin (15/6/2026).

Fenomena sekolah anjing ini mencerminkan pergeseran tren yang lebih besar di China. Masyarakat perkotaan, terutama generasi muda, kini menganggap hewan peliharaan sebagai bagian dari anggota keluarga.

Kondisi tersebut berkembang di tengah penurunan angka kelahiran dan perubahan pola konsumsi. Konsumen muda lebih memprioritaskan pengeluaran yang memberikan kepuasan emosional, termasuk merawat hewan domestik.

Salah seorang pemilik anjing Border Collie bernama Harry, Qian Yi, membagikan pengalamannya.

Ia rutin membelanjakan sekitar 4.000 yuan atau setara Rp9 juta per bulan untuk seluruh keperluan anjingnya.

>>> Prilly Latuconsina dan Bryan Domani Beradu Akting dalam Patah Hati yang Kupilih