Kenaikan harga Pertamax sebesar 32% dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu kekhawatiran akan kelangkaan Pertalite.

Para ekonom memperingatkan bahwa alokasi BBM bersubsidi tahun ini bisa habis lebih cepat dari target.

>>> Jadwal Lengkap KRL Solo Jogja 15 Juni 2026 dari Palur hingga Tugu

Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite dipastikan meningkat.

Risikonya, kuota Pertalite yang sebesar 29,27 juta kiloliter pada 2026 akan lebih cepat habis.

Selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite menjadi pendorong utama migrasi. Rizal menekankan bahwa intensi masyarakat untuk beralih sangat besar akibat disparitas tersebut.

Dampak terhadap APBN dan Kelangkaan

Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menambah kuota subsidi yang membebani APBN atau melakukan pembatasan distribusi yang berpotensi menimbulkan kelangkaan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memperkirakan dampak inflasi terbatas, namun risiko fiskal tetap mengintai.

Pakar energi UGM, Fahmy Radhi, memprediksi subsidi Pertalite akan melebihi kuota 29,26 juta kiloliter akibat migrasi konsumsi.

Disparitas harga Rp6.250 per liter dinilai sangat potensial menggeser pilihan masyarakat ke bensin RON 90.

Jika migrasi terjadi masif, anggaran kompensasi dan subsidi energi yang tahun ini ditetapkan Rp381,3 triliun berisiko membengkak.

>>> FIFA Klarifikasi Gangguan Grafis VAR pada Laga Qatar vs Swiss

Fahmy menegaskan bahwa tanpa penambahan kuota, kelangkaan Pertalite akan terjadi.

Serapan Pertalite dan Stok Menipis

BPH Migas menetapkan kuota subsidi Pertalite 2026 sebesar 29,267 juta kiloliter.

Data per 17 Mei menunjukkan serapan mencapai 10,45 juta kiloliter atau 35,74% dari pagu tahunan.

Ketahanan stok Pertalite per 18 Mei berada di angka 16 hari, sedikit di bawah standar minimum pemerintah 18,2 hari.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran akan kelangkaan jika permintaan terus meningkat.

Menkeu Purbaya meyakini tidak semua konsumen Pertamax akan beralih karena pengguna ritel biasanya menyesuaikan dengan spesifikasi kendaraan. Namun, ia mengakui potensi peralihan tetap ada.

Kementerian ESDM fokus memastikan penyaluran Pertalite tepat sasaran. Juru bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan pengawasan akan diperketat untuk menjaga stabilitas fiskal.

>>> Singapura Bangun Sistem Kliring Emas OTC dan Fasilitas Penyimpanan Bank Sentral

Anggia menambahkan bahwa harga keekonomian BBM RON 92 di negara tetangga mencapai Rp20.000-Rp21.000 per liter. Kenaikan saat ini dinilai sebagai jalan tengah terbaik.