China resmi mengoperasikan pusat data bawah laut komersial pertama di dunia yang menggunakan pasokan listrik dari tenaga angin.

Fasilitas ini menjadi langkah baru dalam efisiensi infrastruktur digital.

>>> Skotlandia vs Haiti Buka Grup C Piala Dunia 2026

Infrastruktur bernama Shanghai Lingang Undersea Data Center ini mulai berjalan sejak Mei 2026.

Lokasinya berada 10 kilometer dari tepi pantai Shanghai dengan kedalaman sekitar 10 meter di bawah permukaan laut.

Pembangunan proyek strategis ini menelan biaya investasi mencapai 1,6 miliar yuan atau setara Rp 4,2 triliun.

Pengerjaannya merupakan kolaborasi antara perusahaan teknologi HiCloud Technology dengan badan usaha milik negara China Communications Construction.

Berbeda dari pusat data konvensional di daratan, fasilitas ini menggunakan air laut di sekitarnya sebagai sistem pendingin alami.

Kebutuhan listriknya dipasok langsung dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai di dekat area tersebut.

Pusat data laut ini memiliki kapasitas daya hingga 24 megawatt. Jumlah daya sebesar itu diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk ribuan rumah tangga.

Sebelum proyek di Shanghai ini berjalan, Microsoft telah menguji coba konsep serupa lewat proyek Natick di Skotlandia pada 2018.

Perusahaan tersebut melaporkan hasil positif terkait keandalan sistem pada 2020, namun tidak melanjutkannya ke tahap komersial.

China sendiri sebenarnya sudah mengoperasikan pusat data bawah laut komersial pertamanya di Pulau Hainan sejak 2023.

Namun, fasilitas baru di Shanghai menjadi yang pertama mengombinasikan pusat data bawah laut dengan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai.

>>> Suara Surabaya Media Rayakan HUT ke-43 dengan Rangkaian Olahraga

Kombinasi permintaan pasar yang tinggi, kemampuan industri, rekayasa kelautan, dan dukungan pemerintah menjadi kunci keberhasilan komersialisasi ini.