Kendati demikian, industri perlu terlebih dahulu mengidentifikasi jenis komponen yang dapat diproduksi oleh IKM beserta kesiapan kapasitas produksinya.

"Peluang pasti ada.

Mari sama-sama dipelajari komponen apa saja yang dapat disuplai oleh IKM, bagaimana kesiapan IKM untuk memasok, bagaimana skala ekonominya, serta kesiapan investasi oleh IKM," tuturnya.

Jongkie menyebut, produsen kendaraan listrik tetap akan mengedepankan dua faktor utama dalam memilih pemasok lokal. Yakni harga yang kompetitif dan kualitas produk yang memenuhi standar industri.

"Yang penting harga dan kualitas akan menjadi syarat utama para pemegang merek," tegasnya.

Pendalaman Industri Masih Jadi PR

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai target pemerintah untuk mendorong IKM masuk ke rantai pasok kendaraan listrik pada dasarnya realistis.

Hal ini didukung oleh pertumbuhan pasar yang sangat cepat.

Permintaan yang besar ini menciptakan peluang bagi pemasok komponen lokal. "Namun, adanya peluang pasar tidak otomatis menjamin keterlibatan IKM," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, tantangan utama justru terletak pada lambatnya pendalaman struktur industri domestik.

Selama produsen masih dapat memperoleh komponen impor dengan harga lebih murah dan siap digunakan, insentif untuk mengembangkan pemasok lokal akan tetap terbatas.

Pengalaman Thailand, katanya, menunjukkan bahwa pertumbuhan industri kendaraan listrik tidak selalu diikuti berkembangnya pemasok lokal bernilai tinggi. Banyak komponen inti masih bergantung pada impor.

"Kondisi tersebut berkaitan langsung dengan daya saing IKM," sebutnya.

>>> IHSG Ditutup Menguat ke Level 6.007,65 pada Akhir Pekan

Lebih lanjut, Yusuf menilai sebagian IKM otomotif di Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman memproduksi komponen kendaraan konvensional. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan teknis dasar yang memadai.