Disrupsi AI dan Ketidakpastian Ekonomi Paksa Perusahaan Ubah Strategi
"Masa depan tidak lagi menempatkan AI sebagai pendukung bisnis.
Pemenangnya adalah perusahaan-perusahaan yang mengutamakan AI atau AI-First, bukan sekadar perusahaan yang diaktifkan oleh AI atau AI-enabled," katanya.
>>> Tradisi Minum Susu 1 Muharram Simpan Makna Kesucian
Meski demikian, para pelaku industri mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi AI tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan.
Dalam banyak kasus, hambatan terbesar justru berasal dari kualitas dan pengelolaan data yang belum terintegrasi.
Data yang tersebar di berbagai sistem membuat AI kesulitan menghasilkan analisis dan keputusan yang akurat.
Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji menilai banyak organisasi masih berisiko terjebak dalam investasi AI yang tidak menghasilkan dampak bisnis nyata.
Menurut dia, adopsi AI seharusnya didasarkan pada kebutuhan dan tujuan bisnis yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren atau fenomena fear of missing out (FOMO).
Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi BNI Toto Prasetio menekankan bahwa transformasi AI juga menuntut perubahan budaya kerja dan kesiapan sumber daya manusia.
"Transformasi tidak pernah hanya soal teknologi. Perubahan budaya kerja dan kesiapan manusia tetap menjadi faktor yang menentukan keberhasilan implementasi," ujarnya.
Di tingkat nasional, pemerintah juga mulai mempercepat pembangunan ekosistem AI.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan Indonesia perlu membangun kemampuan nasional agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI global.
Pemerintah saat ini mendorong pengembangan ekosistem melalui kerangka 5A yang mencakup availability, affordability, awareness, ability, dan agency guna memperluas pemanfaatan AI di berbagai sektor.
Pada saat yang sama, Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Ricardo Irwan Rei menilai Indonesia perlu mulai memikirkan pengembangan model AI sendiri sebagaimana dilakukan China melalui DeepSeek dan Qwen.
Menurut dia, tujuan jangka panjang pengembangan AI nasional tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia.
>>> Sir Jim Ratcliffe Gagal Jual Saham Mayoritas OGC Nice
Di tengah percepatan adopsi AI tersebut, pelaku industri menilai tantangan terbesar perusahaan ke depan bukan lagi membangun teknologi AI, melainkan menyiapkan organisasi agar mampu bekerja berdampingan dengan AI secara efektif dan berkelanjutan.
Update Terbaru
Cara Aktifkan SPayLater Lewat HP untuk Belanja Sistem Cicilan
Senin / 15-06-2026, 01:03 WIB
Maroko Tahan Imbang Brasil 1-1 di Laga Perdana Grup C Piala Dunia 2026
Senin / 15-06-2026, 00:53 WIB
UEFA Tak Ubah Sikap soal Kasus Negreira Meski Terima Dokumen dari Perez
Senin / 15-06-2026, 00:53 WIB
Tim Estafet Indonesia Finis Kedelapan di Kejuaraan Renang Perairan Terbuka Asia
Senin / 15-06-2026, 00:52 WIB
Real Madrid Sepakati Transfer Marc Cucurella dari Chelsea
Senin / 15-06-2026, 00:43 WIB
Pau Cubarsi Beri Tanggapan soal Rumor Julian Alvarez ke Barcelona
Senin / 15-06-2026, 00:40 WIB
Marc Cucurella Isyaratkan Bertahan di Chelsea Setelah Bicara dengan Xabi Alonso
Senin / 15-06-2026, 00:32 WIB
Harga Emas Antam 21 Agustus 2025 Naik Rp 24.000 Per Gram
Senin / 15-06-2026, 00:32 WIB
Laba Industri Asuransi Jiwa Melonjak Jadi Rp7,56 Triliun
Senin / 15-06-2026, 00:28 WIB
Laba Industri Asuransi Jiwa Melonjak Jadi Rp7,56 Triliun hingga April 2026
Senin / 15-06-2026, 00:28 WIB
Marc Cucurella Ingin Hengkang dari Chelsea, Atletico Madrid Paling Agresif
Senin / 15-06-2026, 00:28 WIB
BPI Danantara Sebut Buyback Saham Merupakan Aksi Korporasi Normal BUMN
Senin / 15-06-2026, 00:24 WIB
Massimiliano Allegri Rela Lepas Pesangon AC Milan Demi Melatih Napoli
Senin / 15-06-2026, 00:13 WIB
Ford Mustang Jadi Mobil Paling Jarang Dikendarai di AS, Tapi Hanya Jika Hitung Pemilik yang Menjual
Minggu / 14-06-2026, 23:58 WIB






