Beban utama yang menggerus daya saing komoditas manufaktur Indonesia di pasar global adalah tingginya ongkos energi dan logistik.

"Dari sisi pelaku usaha, kebijakan yang paling dibutuhkan untuk mendorong ekspor adalah kombinasi insentif fiskal dan nonfiskal yang lebih agresif, pengendalian impor yang terukur, serta penurunan biaya logistik dan energi," katanya.

Apindo juga mendukung perluasan sistem Local Currency Settlement (LCS) untuk perdagangan antarnegara. Langkah ini dinilai efektif meminimalkan risiko gejolak kurs yang sering menyulitkan eksportir.

Pemerintah diminta memberikan perhatian lebih pada penguatan sektor industri antara dan penyediaan bahan baku dalam negeri.

"Perluasan penggunaan LCS dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar, sementara penguatan industri antara dan bahan baku domestik akan menurunkan ketergantungan impor.

>>> Ekonom Celios Minta Moratorium Program Makan Bergizi Gratis untuk Evaluasi Total

Kebijakan ini akan menentukan agar ekspor manufaktur dapat tumbuh secara berkelanjutan dan mencapai target 30%," tutup Chandra.