Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan posisi tersebut masih berada jauh di bawah batas defisit yang ditetapkan dalam APBN 2026, yakni Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

Meski demikian, keseimbangan primer APBN hingga akhir Mei masih mencatat surplus Rp58,6 triliun. Angka itu lebih rendah dibanding surplus Rp192,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Defisit terjadi karena realisasi belanja negara selama lima bulan pertama tahun ini melampaui pendapatan yang berhasil dihimpun pemerintah.

Pendapatan negara hingga Mei 2026 tercatat mencapai Rp1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut setara 37,6 persen dari target pendapatan APBN sebesar Rp3.153 triliun.

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen dibandingkan Mei 2025. Angka tersebut merepresentasikan 35,5 persen dari target belanja tahun ini yang dipatok Rp3.842 triliun.

Untuk menutup kebutuhan anggaran, realisasi pembiayaan tercatat Rp379,4 triliun hingga Mei 2026. Nilainya meningkat 16,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp326,5 triliun.