>>> Skotlandia Akhirnya Menang Lagi di Piala Dunia Setelah 36 Tahun

Studi fermentasi menunjukkan konsentrasi gula sekitar 4-6 persen cukup untuk menjaga viabilitas bakteri dan fermentasi optimal.

Viabilitas adalah kemampuan bakteri tetap hidup dari produksi hingga dikonsumsi, karena probiotik hanya bermanfaat jika hidup dan dalam jumlah memadai.

Namun, kadar gula pada label produk jadi tidak selalu mencerminkan kebutuhan bakteri. Menurut Prof Wellyzar, sebagian produk susu fermentasi mendapat tambahan gula setelah fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam.

"Ada produk minuman susu fermentasi yang mendapat penambahan gula pasca proses fermentasi untuk menyeimbangkan rasa asam yang dihasilkan," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa produk probiotik harus dapat diterima konsumen dari sisi cita rasa.

Artinya, tidak semua gula dalam produk probiotik digunakan bakteri. Sebagian ditambahkan untuk menciptakan rasa yang disukai konsumen.

Bermanfaat bagi Pencernaan, tapi Berisiko Diabetes

Di sinilah letak dilema produk probiotik tinggi gula. Di satu sisi, konsumen mendapat manfaat bakteri probiotik.

Di sisi lain, tubuh tetap menerima asupan gula yang perlu diperhitungkan dalam pola makan sehari-hari.

Gula dari minuman probiotik diproses tubuh seperti gula dari minuman manis lainnya. Konsumsi berlebihan dan jangka panjang dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan, resistensi insulin, dan risiko diabetes.

Pada akhirnya, produk probiotik tinggi gula menghadirkan dua sisi yang perlu dilihat bersamaan. Manfaat probiotik bagi kesehatan usus memang nyata, namun kandungan gula tinggi juga membawa konsekuensi kesehatan.

Keputusan mengonsumsi produk probiotik sebaiknya tidak hanya didasarkan pada manfaat, tetapi juga mempertimbangkan kandungan gula dan profil gizi secara keseluruhan.

>>> 125 Kata-kata untuk Anak Perempuan Tersayang, Penuh Kasih Sayang dan Doa

Membaca label informasi gizi dan memperhatikan jumlah gula per sajian dapat membantu memperoleh manfaat probiotik tanpa asupan gula berlebih.