>>> Korlantas Polri Terbitkan Aturan Golongan SIM Kendaraan Listrik

Dalam praktik pendampingan yang dilakukannya, Sari mengaku kerap menyarankan journaling kepada klien sebagai bagian dari proses pengembangan diri.

Melalui kebiasaan menulis, seseorang dapat membangun kesadaran diri sekaligus memahami berbagai emosi yang sedang dirasakan.

Dia menilai manfaat terbesar dari journaling bukan sekadar mencatat peristiwa harian, melainkan membangun kejujuran terhadap diri sendiri.

"Mereka bisa punya self-empowered dan yang paling penting mereka bisa jujur kepada diri mereka sendiri," katanya.

Sari menyarankan masyarakat yang baru mencoba journaling untuk memulai dari langkah sederhana.

Alih-alih menetapkan target besar, kebiasaan tersebut cukup dilakukan selama lima hingga sepuluh menit setiap hari.

Isi tulisan pun tidak harus rumit. Seseorang cukup mencatat apa yang sedang dirasakan dan apa yang sedang dipikirkan pada saat itu.

"Yang ditulis cukup apa yang lagi aku rasakan dan apa yang lagi aku pikirkan. Coba saja lima sampai sepuluh menit setiap hari," ujarnya.

Dia menambahkan konsistensi lebih penting dibanding durasi.

Jika suatu hari terlewat, seseorang tidak perlu merasa bersalah karena tujuan utama journaling adalah membantu diri sendiri, bukan menjadi beban baru.

Mengacu pada konsep pembentukan kebiasaan yang juga diulas dalam buku Atomic Habits, Sari menilai praktik yang dilakukan secara berulang setidaknya selama dua pekan dapat membantu membentuk rutinitas baru yang lebih melekat.

>>> Oknum Pegawai BUMN Diduga Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Penumpang Kereta Rute Jember-Gambir

Namun demikian, pendekatan bertahap tetap menjadi pilihan yang lebih realistis bagi pemula agar kebiasaan tersebut dapat dijalankan secara berkelanjutan.