Tren penerapan persyaratan non-tarif seperti standar lingkungan, jejak karbon, dan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) menjadi tantangan baru.

"Ketidakpastian kebijakan perdagangan global dan meningkatnya tren proteksionisme di berbagai negara juga menjadi tantangan bagi ekspor baja Indonesia," tambah Harry.

Untuk menjaga keseimbangan, IISIA mendorong penguatan pengawasan terhadap impor baja.

Langkah ini penting agar pasar dalam negeri tidak tertekan oleh produk impor berharga rendah atau praktik perdagangan tidak adil.

"Dengan demikian, industri dapat melayani pasar domestik sekaligus memperbesar volume ekspor," katanya.

IISIA menilai dukungan pemerintah melalui penguatan instrumen perlindungan perdagangan, efisiensi logistik, transformasi industri hijau, dan perluasan akses pasar ekspor akan menjadi faktor penting.

>>> Bioskop Trans TV Tayangkan Film Aksi Primal Nicolas Cage 12 Juni 2026

Harry menegaskan dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri baja nasional mampu memenuhi kebutuhan pembangunan dalam negeri dan menjadi kontributor utama pencapaian target ekspor manufaktur.