Kenaikan Harga Pertamax Mendadak Picu Tekanan Psikologis Masyarakat
Pemerintah perlu mempercepat penerapan pembatasan berbasis data kendaraan dan QR code MyPertamina, disertai pemantauan volume mingguan di tingkat SPBU.
Dengan demikian, migrasi konsumsi terdeteksi dini dan kuota subsidi tidak jebol.
Kedua, menerapkan mekanisme penyesuaian harga yang lebih bertahap dan terprediksi. "Lompatan harga 32% sekaligus adalah buah dari penundaan berkepanjangan.
Penyesuaian bulanan yang kecil namun konsisten sesuai formula akan jauh lebih mudah diserap masyarakat," kata Adrian.
Ketiga, menyiapkan bantalan daya beli yang tidak hanya menjaga konsumsi kelompok menengah-rentan, tetapi juga memperluas opsi mobilitas melalui transportasi umum yang layak.
Pemerintah dapat menjaga keterjangkauan tarif transportasi publik dan menahan kenaikan tarif layanan publik yang sensitif.
Dukungan sementara bagi pekerja rentan dan pelaku usaha kecil yang paling terdampak juga perlu diberikan.
"Transportasi umum juga perlu diperkuat sebagai bantalan struktural melalui peningkatan kualitas layanan, frekuensi, keamanan, integrasi antarmoda, dan keterjangkauan tarif," papar Adrian.
Keempat, menjaga transparansi dan kepastian fiskal.
Pemerintah perlu mengomunikasikan secara terbuka besaran kewajiban kompensasi kepada Pertamina dan jadwal pembayarannya, serta peta jalan kebijakan harga energi hingga akhir tahun.
Kelima, dalam jangka menengah, kenaikan harga Pertamax perlu dijadikan momentum untuk memperbaiki arsitektur subsidi energi Indonesia.
Adrian menilai selama ini subsidi energi sering kali lebih banyak dinikmati oleh kelompok yang memiliki akses lebih besar terhadap konsumsi energi.
"Subsidi harus diarahkan kepada orang yang membutuhkan, bukan kepada barang yang dikonsumsi lintas kelompok pendapatan. Itulah prinsip fiskal yang lebih adil," kata Adrian.
Adrian menegaskan bahwa kebijakan harga BBM harus dilihat sebagai bagian dari kredibilitas ekonomi nasional.
Di tengah tekanan rupiah, suku bunga yang meningkat, serta perhatian pasar terhadap kesinambungan fiskal Indonesia, pemerintah perlu menunjukkan bahwa APBN tetap dikelola secara hati-hati tanpa mengabaikan daya beli masyarakat.
Ia mengingatkan pemerintah perlu berhati-hati.
Kenaikan Pertamax boleh jadi realistis secara fiskal, tetapi harus dikelola agar tidak berubah menjadi tekanan baru bagi inflasi, daya beli, dan subsidi Pertalite.
>>> GAIKINDO Sinyalkan APM Bakal Naikkan Harga Mobil Akibat Rupiah Melemah
"Reformasi harga energi harus dilakukan bukan hanya untuk menyelamatkan APBN, tetapi juga untuk membangun sistem subsidi yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan," ucap Adrian.
Update Terbaru
Kemenkes Siapkan Robot Bedah AI untuk Fasilitas Medis Nasional
Selasa / 28-07-2026, 09:00 WIB
Polda Jabar Minta Maaf Usai Alphard Pelat Palsu Terobos Lampu Merah HI
Selasa / 28-07-2026, 08:57 WIB
Batasi Beban Kerja 40 Jam, IDI Evaluasi Program Dokter Magang
Selasa / 28-07-2026, 08:57 WIB
Hasil Washington Open: Janice Tjen Lolos ke Babak 16 Besar
Selasa / 28-07-2026, 08:56 WIB
Alasan Trump Ngotot Jual Jet F-35 ke Turki Walau Diprotes Israel
Selasa / 28-07-2026, 08:51 WIB
Fakta Sejarah Singkatan Nama Depok Warisan Cornelis Chastelein
Selasa / 28-07-2026, 08:43 WIB
Emma Roberts dan Cody John Resmi Menikah Usai 4 Tahun Pacaran
Selasa / 28-07-2026, 08:43 WIB
Moisturizer Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun dan Rekomendasi Pilihan
Selasa / 28-07-2026, 08:42 WIB
Panduan Lunasi SPayLater Pakai Virtual Account Bank Mandiri
Selasa / 28-07-2026, 08:37 WIB
Cara Praktis Cek NISN Online 2026 Tanpa Harus Datang ke Sekolah
Selasa / 28-07-2026, 08:36 WIB
Pengacara Febrie Adriansyah Buka Suara soal Sutrimo yang Tewas Misterius
Selasa / 28-07-2026, 08:35 WIB
Gebrakan Prabowo Bentuk URI Dikritik Ekonom UI Jadi Universitas Ruwet
Selasa / 28-07-2026, 08:35 WIB
Kinerja Keuangan IOTF Tumbuh Positif Paruh Pertama 2026
Selasa / 28-07-2026, 08:28 WIB
Honda NX500 Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Harga dan Spesifikasinya
Selasa / 28-07-2026, 08:28 WIB







