Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mengindikasikan bahwa sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) otomotif domestik berpotensi menaikkan harga jual mobil pada bulan ini.

Langkah penyesuaian tersebut dipicu oleh tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut.

>>> Barcelona Kunci Gelar Juara La Liga Usai Kalahkan Real Madrid 2-0

Ketergantungan industri otomotif nasional terhadap bahan baku impor yang ditransaksikan dengan dolar AS menjadi penyebab utama kebijakan ini.

Meskipun Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) terus digenjot, material dasar seperti baja dan plastik masih harus didatangkan dari luar negeri.

"Dampaknya pasti setelah sekian lama akan ada adjustment, yang kemungkinan dilakukan bulan ini. Ini baru informasi dari teman-teman APM (agen pemegang merek).

Karena sudah beberapa bulan nilai tukar ini menurun terus, sementara industri otomotif tidak mungkin bebas sama sekali dari faktor komponen impor," ungkap Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara.

Penyesuaian harga ini diprediksi akan menyasar seluruh segmen kendaraan, mulai dari low cost green car (LCGC), electric vehicle (EV), hingga jenis hybrid.

Kukuh menjelaskan bahwa besaran kenaikan harga akan bervariasi bergantung pada kelas kendaraan, di mana mobil premium memiliki potensi lonjakan paling signifikan.

"Sehingga perlu ada adjustment, tidak mungkin dipertahankan harga seperti itu," lanjut Kukuh Kumara.

Kondisi dilematis muncul pada kendaraan segmen LCGC yang memiliki volume pasar besar namun konsumennya sedang mengalami tekanan pendapatan.

Sebaliknya, konsumen mobil mewah dinilai memiliki kondisi finansial yang lebih kuat terhadap perubahan harga meskipun volumenya kecil.

>>> Saham SpaceX Melonjak 30 Persen di Debut Perdana Nasdaq

"Memang, kelas premium ini pembelinya berbeda lagi, secara finansial mereka kuat meski volumenya kecil. Yang volumenya besar justru adalah kendaraan yang diminati masyarakat banyak seperti LCGC.