Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, resmi melantai di bursa Nasdaq dengan harga saham melonjak sekitar 30 persen pada hari pertama perdagangan.

Harga saham dibuka di level sekitar US$175 per lembar, naik dari harga penawaran awal sebesar US$135.

>>> Mengenal Sepat, Kuliner Khas Sumbawa yang Kaya Filosofi dan Rasa

Kenaikan ini mencerminkan antusiasme investor yang tinggi terhadap prospek bisnis SpaceX.

Melalui penjualan saham senilai US$75 miliar, SpaceX langsung mengantongi valuasi awal sekitar US$1,77 triliun.

Angka ini menempatkan perusahaan sebagai salah satu entitas publik paling bernilai di Amerika Serikat.

IPO ini tercatat sebagai salah satu penawaran umum perdana terbesar dalam sejarah Wall Street, melampaui rekor sebelumnya seperti yang dicetak oleh Saudi Aramco pada 2019.

Volume permintaan yang luar biasa tinggi memaksa Nasdaq menunda pembukaan perdagangan penuh hingga pertengahan sesi. Langkah ini diambil untuk menyeimbangkan permintaan beli dan jual serta menghindari gangguan teknis.

Faktor 'Musk Premium' dan Tantangan Keuangan

Analis menilai kesuksesan debut SpaceX dipengaruhi oleh faktor 'Musk premium', yaitu valuasi tinggi yang diberikan pasar terhadap perusahaan yang terkait dengan Elon Musk.

Samuel Kerr, analis pasar modal global, memperkirakan lonjakan perdagangan bisa melebihi 20 persen. "Jika lebih rendah dari itu, justru akan membuat saya khawatir," ujarnya.

>>> Dewa United Banten Kalahkan Satria Muda Bandung di GOR Bandung Arena

Meski valuasi fantastis, laporan keuangan SpaceX menunjukkan kerugian bersih mendekati US$5 miliar tahun lalu dengan pendapatan yang relatif kecil dibanding raksasa teknologi lain.

Namun, investor tetap optimis terhadap prospek jangka panjang, terutama dari komersialisasi roket dan ekspansi jaringan satelit Starlink. Manajemen SpaceX mengklaim potensi pasar global mencapai US$28,5 triliun.