Masyarakat Sumbawa kerap menghidangkan sepat dalam berbagai acara keluarga maupun perayaan besar.

Kehadiran menu ini sangat lekat pada bulan Ramadan, bahkan muncul ungkapan populer di tengah masyarakat yaitu 30 hari puasa, 30 hari sepat.

Kuliner ini tidak sekadar menjadi santapan pengisi perut, tetapi juga merepresentasikan nilai kesederhanaan hidup masyarakat Sumbawa.

Penggunaan bahan baku yang fleksibel menunjukkan kreativitas dan keterbukaan dalam memanfaatkan potensi alam lokal.

Racikan masakan ini tidak memiliki satu resep yang baku, sehingga setiap keluarga mempunyai cara tersendiri dalam mengolahnya.

Keberagaman cara masak ini mencerminkan kebebasan sekaligus kearifan lokal yang terus diwariskan antar-generasi.

Saat ini, popularitas menu tradisional tersebut terus meluas dari meja makan rumah tangga ke sektor komersial.

>>> Pentingnya Nutrisi Selama Kehamilan untuk Masa Depan Anak

Hidangan ini kini semakin mudah dijumpai di berbagai warung pinggir jalan, rumah makan, hingga restoran sebagai identitas budaya dan daya tarik wisata daerah.