Tak semua makanan khas Indonesia lahir dari perayaan atau tradisi penuh sukacita.

Sebagian justru tercipta dari masa-masa paling sulit dalam sejarah, ketika masyarakat harus berjuang bertahan hidup di tengah kemiskinan, kelaparan, hingga tekanan pada era penjajahan.

>>> 7 Tips Memilih Ukuran Sepatu Jalan yang Pas dan Nyaman

Keterbatasan bahan pangan membuat masyarakat memanfaatkan apa pun yang tersedia. Dari kreativitas itulah lahir berbagai hidangan sederhana yang awalnya hanya menjadi cara untuk mengganjal perut.

Seiring waktu, makanan-makanan tersebut justru menjelma menjadi kuliner legendaris yang tetap digemari hingga sekarang. Berikut lima makanan Indonesia yang lahir dari kisah pilu dan kemiskinan.

1. Sate kere

Sate kere merupakan kuliner tradisional yang identik dengan Solo dan Yogyakarta. Di balik kelezatannya tersimpan kisah tentang kesenjangan sosial pada masa penjajahan Belanda.

Kala itu, daging sapi menjadi bahan makanan yang hanya mampu dibeli kalangan berada. Masyarakat kecil kemudian memanfaatkan jeroan, gajih, hingga tempe gembus sebagai pengganti daging untuk dibuat sate.

Nama 'kere' sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti miskin.

Meski lahir dari kondisi serba kekurangan, sate kere kini justru menjadi salah satu kuliner tradisional yang paling banyak diburu wisatawan saat berkunjung ke Solo.

2. Tengkleng

Semangkuk tengkleng yang gurih ternyata juga berawal dari masa penuh keterbatasan. Hidangan khas Solo ini diyakini berkembang ketika masyarakat menghadapi kelangkaan pangan pada masa penjajahan.

Saat itu, daging kambing menjadi barang yang sulit diperoleh.

Masyarakat kemudian memanfaatkan bagian-bagian yang tersisa, seperti tulang, kepala, kaki, dan jeroan agar tidak ada bahan makanan yang terbuang.

Dari kebiasaan tersebut lahirlah tengkleng, hidangan berkuah yang didominasi tulang dan jeroan dengan cita rasa rempah yang kuat.