Inflasi pun melonjak ke 4,4 persen.

Guna menopang stabilitas fiskal, Grup Bank Dunia berkomitmen mengalokasikan dana bantuan likuiditas darurat hingga US$80-100 miliar dalam 15 bulan jika dampak ekonomi konflik menetap.

Pada tahap awal, Bank Dunia menyediakan US$50-60 miliar melalui instrumen yang ada, termasuk US$25 miliar untuk jaringan pengaman sosial, peningkatan kapasitas fiskal, serta modal kerja sektor korporasi dan pertanian.

Di tingkat regional, pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan turun ke 4,2 persen pada 2026 sebelum menguat ke 4,4 persen pada 2027.

Wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, Afghanistan, dan Pakistan menanggung dampak paling berat dengan pertumbuhan anjlok ke 1,6 persen tahun ini.

Wakil Kepala Ekonom Grup Bank Dunia Ayhan Kose menilai krisis harus diantisipasi dengan penguatan fundamental fiskal.

Menurutnya, konflik berdampak buruk pada aktivitas global, tetapi setiap krisis juga membawa peluang.

>>> Kisah Titik Balik Menjaga Kesehatan Lewat Intermittent Fasting

"Momen ini harus digunakan untuk memperkuat kerangka kebijakan, berinvestasi dalam infrastruktur, mempercepat reformasi bisnis, dan memobilisasi modal swasta untuk mendukung penciptaan lapangan kerja," ujar Ayhan Kose.