Lembaga kajian Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menyatakan kondisi keuangan Indonesia masih dalam posisi aman.

Hal ini didukung sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan ketahanan fiskal tetap terjaga di tengah tantangan global.

>>> Film Tanah Runtuh Angkat Perspektif Anak Down Syndrome

Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat positif di kisaran 5 persen. Sementara itu, inflasi tahunan hingga Mei 2026 berada di angka sekitar 3,08 persen.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengatakan capaian inflasi tersebut mencerminkan kestabilan harga dan daya beli masyarakat yang terjaga.

"Jadi kalau kita lihat dari inflasi, kondisi inflasi kita juga masih relatif bagus, yaitu sampai dengan bulan Mei lalu itu, inflasi kita ada di 3,08% year-on-year," ungkapnya.

Indikator lain yang memperkuat ketahanan ekonomi adalah neraca perdagangan Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), performa ekspor-impor Indonesia berhasil mempertahankan surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak 2020.

>>> Mengapa Masakan Ibu Tak Pernah Tergantikan di Rantau?

Menurut Piter, surplus tersebut menjadi cerminan bahwa kondisi ekonomi masih baik. Ia menambahkan bahwa di tengah gejolak global, beberapa wilayah di Indonesia justru mengalami windfall atau "durian runtuh".

Ketahanan eksternal juga ditopang oleh cadangan devisa yang memadai, mencapai sekitar US$ 145 miliar.

Likuiditas valuta asing ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan transaksi internasional, termasuk impor dan pembayaran utang luar negeri.

Pemerintah juga berkomitmen menjaga disiplin fiskal dengan membatasi defisit anggaran agar tidak melebihi batas aman 3 persen.

>>> UGM Terima 4.480 Mahasiswa Baru Lewat Jalur Mandiri UM CBT 2026

"Ini adalah hal-hal yang menurut saya indikator-indikator yang bisa kita jadikan pegangan untuk mengatakan bahwasannya kondisi fiskal, kondisi keuangannya pemerintah itu relatif baik," pungkas Piter.