Kehidupan orang dewasa yang kerap dipenuhi kecemasan dan ketidakpastian masa depan menjadi latar lahirnya film Tanah Runtuh.

Karya sinema ini menawarkan sudut pandang sederhana untuk melihat dunia dengan lebih tenang dan penuh kasih sayang.

>>> Mengapa Masakan Ibu Tak Pernah Tergantikan di Rantau?

Film ini menampilkan karakter Ringgo yang diperankan oleh Ridho Khaliq, seorang anak dengan down syndrome.

Kehadiran Ringgo menjadi representasi yang jarang muncul di layar lebar Indonesia, sekaligus mengajak penonton kembali pada nilai mendasar seperti keluarga dan kepedulian.

Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo dan diproduseri oleh Denny Siregar, Tanah Runtuh mengikuti perjalanan emosional karakter Kai dan Ringgo yang terpisah dari ibu mereka di tengah pergolakan peristiwa besar.

Sinema ini menjadi refleksi tentang pilihan manusia untuk tetap mengedepankan cinta saat lingkungan di sekitarnya terasa hancur.

Cinta di Tengah Keruntuhan

Bagi sutradara Rudi Soedjarwo, daya tarik utama film ini terletak pada perjuangan manusia untuk bertahan hidup dan saling menjaga.

"Ketika dunia terasa runtuh, yang sering menyelamatkan kita justru bukan hal-hal besar, tetapi orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal dan peduli," ujarnya.

Produser Denny Siregar menjelaskan bahwa proyek ini sejak awal tidak dirancang untuk menyoroti konflik. Fokus utamanya adalah kekuatan cinta yang mampu bertahan dalam situasi paling sulit sekalipun.

Karakter Ringgo tidak diposisikan sebagai simbol atau objek belas kasihan.

>>> UGM Terima 4.480 Mahasiswa Baru Lewat Jalur Mandiri UM CBT 2026

Sosok yang dimainkan Ridho Khaliq justru berfungsi sebagai pusat emosional dan jembatan bagi penonton untuk memandang kehidupan dengan lebih damai.

Aktor Vino G. Bastian turut terlibat memerankan tokoh Idham, seorang anggota yang tidak sengaja berjumpa dengan Kai dan Ringgo.