Sepiring lauk yang tampak sempurna di etalase warung makan tak pernah benar-benar mampu menggantikan rasa masakan Ibu. Apakah yang dirindukan sesungguhnya adalah bumbunya, atau kehangatan yang menyertainya?

Di balik etalase kaca sebuah warung makan di sudut gang perantauan, aneka lauk tersaji di bawah cahaya lampu kuning yang temaram.

>>> UGM Terima 4.480 Mahasiswa Baru Lewat Jalur Mandiri UM CBT 2026

Ada sayur lodeh dengan potongan nangka muda yang empuk, sambal goreng kentang yang merah menggoda, hingga ayam goreng lengkuas yang aromanya menguar hangat.

Menjelang waktu berbuka, tempat seperti ini menjadi titik temu bagi banyak jiwa yang lelah—para perantau yang menggenggam bungkusan plastik berisi nasi hangat.

Mereka berharap menemukan sedikit penghiburan setelah seharian menahan lapar.

Saya adalah salah satunya. Berdiri menatap deretan menu yang begitu akrab di lidah, tetapi entah mengapa terasa asing di hati.

Saya memesan menu yang hampir serupa dengan yang biasa tersaji di rumah: sayur lodeh dan sedikit sambal terasi.

Namun ketika bungkusan itu dibuka di kamar kos yang sunyi, dan suapan pertama masuk ke mulut, ada kenyataan yang lebih dulu terasa pahit daripada makanan itu sendiri.

Bahwa sejauh apa pun saya mencari, rasa masakan Ibu adalah sesuatu yang tak pernah bisa sepenuhnya ditiru. Kegagalan menemukan “rasa rumah” di perantauan bukan sekadar soal bumbu.

Sentuhan Tangan yang Tak Kasatmata

Secara teknis, mungkin santan di warteg lebih kental, cabainya lebih berani, atau rempahnya lebih lengkap.

Tetapi ada satu unsur yang tak kasatmata: sentuhan tangan yang memasak dengan doa dan perhatian.

Ibu memasak sambil membayangkan siapa yang akan menyantapnya. Ada kehangatan yang seolah merambat dari jemarinya ke dalam uap sayur yang mendidih.