Itulah sebabnya, ketika saya mencoba meniru resepnya di atas kompor kecil di sudut kamar, hasilnya selalu terasa berbeda.

Bukan semata karena takaran bumbu, melainkan karena ada jiwa yang tak bisa direplikasi.

Ramadan Mempertajam Rindu

Ramadan di perantauan memiliki cara tersendiri untuk mempertajam rindu itu. Saat azan Magrib berkumandang, suara kota seakan berubah menjadi pemanggil kenangan.

Saya teringat suasana beberapa menit sebelum berbuka di rumah: suara piring yang bersentuhan, obrolan ringan di meja makan, dan Ibu yang sibuk memastikan setiap orang mendapat bagian terbaik.

Di kamar kos, semua itu tergantikan oleh suara plastik mika yang dibuka perlahan.

Keheningan menjadi teman berbuka. Dalam sunyi, lidah justru terasa lebih peka—membandingkan, menilai, bahkan mengkritik.

>>> China Bangun Basis Konversi Batubara Terbesar Demi Ketahanan Energi

Terlalu banyak penyedap, kurang gula, atau bumbu yang belum meresap sempurna. Padahal, kritik-kritik kecil itu sering kali hanya cara kita menahan rindu yang tak terucap.

Mengapa rasa ini tak bisa membawa saya kembali ke masa kecil? Mengapa sepiring lauk tak mampu menyembuhkan lelahnya menjadi dewasa di tanah orang?

Setiap sore selama Ramadan, ada harapan kecil yang menyertai langkah ke warung makan: mungkin kali ini rasanya mirip.

Namun kekecewaan kecil itu justru membuka pemahaman yang lebih dalam tentang makna pulang.

Pulang bukan sekadar perjalanan fisik menempuh jarak ribuan kilometer. Pulang adalah perasaan utuh dan bagi banyak orang, rasa masakan Ibu menjadi bagian dari keutuhan itu.

Lauk warteg yang saya santap setiap hari perlahan menjadi pengingat akan ketidakhadiran.

Sebuah simbol perjuangan perantau yang mencoba membangun dunia yang baru, namun tetap menyadari ada bagian yang tak tergantikan.