Kita bisa belajar mandiri, memasak sendiri, atau membeli makanan terbaik sekalipun. Namun tetap ada rasa aman yang hanya hadir di meja makan rumah.

Masakan warteg mungkin mengenyangkan perut, tetapi belum tentu menenangkan jiwa. Di Ramadan ini, saya mulai belajar berdamai.

Saya berhenti membandingkan setiap butir nasi dengan nasi pulen buatan Ibu. Saya belajar mensyukuri rasa yang hampir serupa, meski tak pernah identik.

Rindu itu justru menjadi bumbu tambahan membuat saya lebih menghargai setiap panggilan telepon dari rumah, setiap pertanyaan sederhana, “Sudah makan apa untuk buka tadi?”

Mencari rasa Ibu dalam sepiring lauk warteg adalah pengingat bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dibeli.

Kerinduan yang tak sepenuhnya terobati justru menjadi bukti bahwa kita masih memiliki rumah untuk dituju.

Ramadan mengajarkan kita menahan lapar.

Namun ia juga mengajarkan kita mengenali lapar yang lain: lapar akan kasih sayang, kehadiran, dan kehangatan yang hanya bisa ditemukan di meja makan rumah.

Mungkin tahun depan, atau saat Lebaran tiba, rasa itu akan kembali nyata.

>>> PT Benelli Motor Indonesia Luncurkan Keeway Road Falcon 250 di PRJ 2026

Untuk sekarang, biarlah sepiring lauk warteg menjadi saksi bisu kerinduan yang tumbuh di sela kunyahan, doa-doa pendek, dan harapan untuk segera pulang.