Banyak orang beranggapan bahwa membeli barang dengan harga termurah adalah cara terbaik untuk berhemat.

Namun, keputusan yang tampak ekonomis di awal justru bisa membuat Anda membayar lebih mahal di kemudian hari.

>>> Wajah Baru Socceroos: Dari Kamp Pengungsian Menuju Piala Dunia 2026

Pengalaman membeli sepatu seharga seratus ribuan menjadi contoh nyata. Sepatu tersebut hanya bertahan tiga hingga empat bulan sebelum rusak, dan terasa tidak nyaman saat dipakai lama.

Setelah beralih ke sepatu bermerek dengan harga hampir lima kali lipat, kenyamanan dan daya tahan jauh lebih baik.

Sepatu itu tetap awet bertahun-tahun dan nyaman dipakai berjam-jam.

Konsep Biaya per Pemakaian

Pengalaman tersebut memperkenalkan konsep cost per use atau biaya per pemakaian. Sepatu yang lebih mahal justru lebih ekonomis karena dipakai lebih lama dan lebih sering.

Nilai sepatu tidak hanya pada daya tahan, tetapi juga kenyamanan, kesehatan kaki, dan rasa percaya diri. Hal serupa berlaku pada produk perawatan tubuh.

Produk murah sering tidak memberikan hasil signifikan, sehingga mendorong pembelian produk tambahan. Padahal, satu produk berkualitas bisa menghindari penumpukan produk yang tidak perlu.

Harga Murah dan Overkonsumsi

Harga rendah kerap memicu pembelian impulsif. Diskon dan promosi membuat fokus tertuju pada nominal harga, bukan pada kualitas atau kebutuhan.

>>> UFC Gelar Laga Freedom 250 di Halaman Gedung Putih

Barang berkualitas rendah bisa menimbulkan ketidaknyamanan fisik dan mental. Pakaian dengan bahan kurang baik, peralatan masak murah, atau elektronik cepat rusak adalah contohnya.

Banyak orang ragu membeli barang mahal bukan karena tidak mampu, tetapi karena persepsi bahwa barang tersebut terlalu mahal untuk diri sendiri.