PT Timah (Persero) Tbk atau TINS tengah menjajaki kerja sama peningkatan cadangan timah dengan Yunnan Tin Co. Ltd. Langkah ini bertujuan memperkuat posisi perseroan di pasar global.

Penjajakan dilakukan melalui rencana pertukaran pengetahuan mengenai operasi dan produksi logam. Perwakilan Yunnan Tin telah mengunjungi fasilitas tambang dan smelter TINS di Bangka Belitung.

>>> Kurs Rupiah 12 Juni 2026 Menguat ke Rp 17.860 per Dolar AS

Direktur Produksi dan Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra mengatakan perseroan mempertimbangkan kunjungan balasan ke China untuk mempelajari teknologi Yunnan Tin.

"Kita masih kaji terus, rencana dalam tahun ini kita juga visit ke Yunnan Tin untuk lihat lebih detail teknologi apa saja yang kira-kira kita bisa adopt," ujar Ilhamsyah.

Ia menegaskan kolaborasi ini berfokus pada transfer teknologi pertambangan yang diharapkan mendongkrak efisiensi pengelolaan sumber daya mineral.

Rencana kemitraan strategis ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan awal yang ditandatangani sejak Agustus 2024. Manajemen TINS menyatakan komunikasi intensif masih berjalan secara berkala.

Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro mengatakan tim Yunnan Tin sudah datang ke Indonesia dan giliran TINS yang akan berkunjung ke China.

Kolaborasi ini bernilai strategis karena Yunnan Tin menguasai sekitar 50% pangsa pasar timah dunia, sementara TINS menguasai 13% hingga 15%.

>>> Korsel Balikkan Keadaan, Kalahkan Ceko 2-1 di Piala Dunia 2026

Pada kuartal I-2026, TINS mencatatkan kenaikan produksi bijih timah 96% menjadi 6.312 ton Sn.

Produksi logam timah melonjak 82% menjadi 5.630 metrik ton, dengan volume penjualan tumbuh 113% mencapai 6.009 metrik ton.

Harga jual rata-rata logam timah TINS pada kuartal pertama 2026 mencapai US$49.221 per metrik ton.

Mayoritas penjualan didominasi ekspor sebesar 97%, dengan China sebagai tujuan utama menyerap 48%.

Performa ini berbanding terbalik dengan tahun 2025 ketika produksi bijih timah TINS turun 4% menjadi 18.635 ton Sn akibat penambangan ilegal dan penolakan warga.

>>> Geliat Usaha di Bawah Flyover Martadinata, Antara Peluang dan Penataan

Penurunan tersebut berimbas pada koreksi volume penjualan logam timah sebesar 5% menjadi 16.634 metrik ton.