Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan bahwa kenaikan BI rate menjadi 5,5% memberikan tekanan tambahan bagi industri mebel dan kerajinan yang padat karya.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan langkah Bank Indonesia tersebut dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan pasar.

>>> HP Gaming 2 Jutaan 2026 Punya Pilihan Menarik dengan Layar 120Hz dan Baterai Besar

Namun, dari sisi sektor riil, kenaikan suku bunga dinilai menambah beban bagi industri yang berorientasi ekspor.

HIMKI berharap kebijakan moneter ini diimbangi dengan regulasi pembiayaan yang lebih ramah bagi industri padat karya dan ekspor.

Beberapa solusi yang diusulkan antara lain kredit investasi dan modal kerja dengan bunga rendah, skema pembiayaan ekspor yang kompetitif, serta insentif restrukturisasi bagi perusahaan sehat.

Dukungan pembiayaan juga diperlukan untuk pengadaan mesin, penerapan teknologi baru, dan promosi di pasar internasional.

"Kami berharap stabilitas makro tetap dijaga, tetapi jangan sampai sektor riil kehilangan napas," ujar Abdul Sobur kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

>>> Ikan Lele vs Ikan Kembung: Mana Lauk Harian yang Lebih Baik?

Ia menambahkan bahwa pelemahan industri dan penurunan ekspor akan membuat investasi tertahan dan berisiko menekan tenaga kerja.

"Maka stabilitas makro juga akan rapuh," imbuhnya.

Menurut HIMKI, kebijakan ideal adalah yang mampu memperkuat rupiah sekaligus menjaga pertumbuhan sektor produktif.

"Pajak dan devisa adalah buah, sedangkan industri adalah pohonnya. Pohon harus dirawat melalui pembiayaan sehat, regulasi mendukung, dan ekosistem industri yang kuat," kata Sobur.

>>> KAI Commuter Pertebal Pengamanan Stasiun Antisipasi Demo Mahasiswa di Jakarta

Dengan dukungan pembiayaan dan regulasi tepat, industri mebel dan kerajinan nasional diyakini mampu menghadapi tantangan ekonomi dan tetap berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja serta ekspor.