>>> Lonjakan Harga Batubara Domestik Tekan Industri Semen Swasta

Harapan Mediasi dari Pelestari Keraton

Pelaksana Pelestari, Pengembangan dan Pemanfaatan Keraton Solo, KPH Panembahan Agung Tedjowulan berharap Wali Kota Solo bersedia mengundang pihak-pihak terkait untuk mengadakan rapat bersama pada Sabtu (13/6) atau Minggu (14/6).

"Sudah banyak masukan dan sudah banyak analisa, sehingga diambil kesimpulan bahwa tanggal 13 Juni atau 14 Juni nanti, saya tadi dari perwakilan Balai Kota ada, supaya dilaporkan ke Pak Wali, supaya Pak Wali mengundang kita semuanya.

Itu, jadi dari saya sama Gusti Wandansari nanti, dari pihak-pihak lain yang terkait dengan masalah keraton ini," kata KPH Panembahan Agung Tedjowulan.

Terkait rencana Paku Buwono XIV Purbaya yang tetap akan menggelar kirab pusaka tersendiri, pihak pelestari menyerahkan sepenuhnya penyelesaian masalah tersebut kepada mediasi kepala daerah.

"That tadi, tanggal 13-14 saya minta Pak Wali, waktu itu mengundang-undang kita. Itu, di tempatnya Wali Kota sana.

Iya (rapat lanjutan). (PB XIV Purbaya juga menggelar di waktu yang sama?

) Ya nanti Pak Wali Kota berarti," kata KPH Panembahan Agung Tedjowulan.

Pihak keraton menekankan pentingnya komunikasi dua arah demi tercapainya keselarasan antara lembaga adat dengan seluruh tingkat pemerintahan.

"Hanya sekarang itu masih ada yang perlu diselesaikan terkait dengan tegak lurus tadi, antara Keraton, Pemda Tingkat 1, Tingkat 2, sampai dengan Kementerian.

Itu mesti dirembuk ben hasilnya baik, ben Kota Solo toto tentrem kerto raharjo, thukul kang sarwa tinandur," kata KPH Panembahan Agung Tedjowulan.

Bagi Keraton Solo, ritual Malam 1 Suro merupakan pergantian tahun Jawa yang sakral dan identik dengan arak-arakan pusaka oleh abdi dalem yang berjalan kaki mengelilingi rute tertentu.

>>> Satgas Finalisasi Kajian 13 Proyek Hilirisasi Tambahan Rp239 Triliun

Prosesi ini menerapkan tradisi tapa bisu sebagai simbol introspeksi diri, di mana para peserta dilarang berbicara sepanjang rute kirab demi memohon keselamatan.