Lonjakan Harga Batubara Domestik Tekan Industri Semen Swasta
Lonjakan harga batubara di pasar domestik mulai memberikan tekanan besar bagi industri semen nasional, khususnya perusahaan swasta yang tidak mendapatkan pasokan melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan, produsen semen non-BUMN terpaksa membeli batubara dengan harga pasar yang mengacu pada Indonesia Coal Index (ICI).
>>> Satgas Finalisasi Kajian 13 Proyek Hilirisasi Tambahan Rp239 Triliun
Belakangan ini, harga batubara segmen non-DMO naik sekitar US$ 20 hingga US$ 21 per ton. Dampaknya, ongkos produksi (COGM) melonjak 14% sampai 17%.
Kenaikan ini memperberat beban operasional yang sebelumnya sudah tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan baku lain seperti kantong semen berbahan plastik.
Penyesuaian Harga Terbatas
Lilik menambahkan, beberapa produsen semen telah melakukan penyesuaian harga jual produk di pasar. Namun, langkah tersebut dinilai belum sebanding dengan tingginya lonjakan biaya produksi.
"Pasti ada penyesuaian harga. Karena kami tidak mungkin menaikkan harga semen setinggi kenaikan biaya yang terjadi.
>>> BYD Resmi Luncurkan M6 DM, MPV Hybrid Mulai Rp 298 Juta
Ditambah lagi ada kenaikan biaya bahan baku lain seperti kantong plastik dan BBM," ujarnya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Di tengah tekanan biaya, geliat industri semen tahun ini sebenarnya mulai membaik. Tingkat utilisasi operasional pabrik hingga Mei 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, ASPERSSI mengingatkan bahwa fleksibilitas produsen untuk menaikkan harga jual ke konsumen masih sangat terbatas.
Hal ini disebabkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari perlambatan ekonomi.
>>> Pegadaian Resmi Bergabung Jadi Pemegang Rekening KSEI
Jika harga semen dipatok terlalu tinggi, permintaan pasar dikhawatirkan terganggu. Situasi ini semakin berisiko apabila aktivitas sektor konstruksi dan proyek infrastruktur mengalami perlambatan dalam waktu dekat.
Update Terbaru
Sensasi uji aroma langsung ubah cara konsumen belanja parfum
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Kebijakan Baru Insentif EV Bidik Mobil dan Motor Listrik Lokal
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Garuda Muda Gilas Kamboja 5-1 Lewat Aksi Cemerlang Mitchell Baker
Selasa / 28-07-2026, 00:00 WIB
Spesimen Ijazah Jokowi Berbeda dari Lulusan UGM 1985 Menurut dr. Tifa
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Bocoran Harga Global Redmi Note 17 Series Sebelum Peluncuran Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Penampilan Berwibawa Demi Moore dalam MV Animal Milik KATSEYE
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Mengenal Airbus Beluga XL, Pesawat Kargo Unik Penopang Masa Depan Industri
Senin / 27-07-2026, 23:56 WIB
Chrome ARM64 untuk Linux Dirilis Google Tanpa Pengumuman Resmi
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Aturan Sumbangan HUT RI di Surabaya Harus Sukarela Tanpa Paksaan
Senin / 27-07-2026, 23:49 WIB
Sean Diddy Combs Menjalani Hukuman Isolasi Usai Terlibat Perkelahian Penjara
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Pilihan perangkat elektronik paling diminati pembeli di Amazon
Senin / 27-07-2026, 23:43 WIB
Kasus Eric Adjepong: Pelanggaran Perintah Perlindungan Mantan Istri
Senin / 27-07-2026, 23:42 WIB
Aksi N3on dan Ryan Garcia Gelar Cuci Mobil Amal Bantu Korban ICE
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB
Persija Tumbang di Laga Perdana, Shin Tae-yong Ungkap Kendala Tim
Senin / 27-07-2026, 23:35 WIB







